JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diproyeksikan menjadi wajah baru Indonesia kini tak luput dari kepungan dampak kebakaran hutan dan lahan. Asap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan ikut menurunkan kualitas udara di kawasan ibu kota baru hingga masuk kategori tidak sehat.
Data pemantauan yang disampaikan Kementerian Kesehatan menunjukkan, kualitas udara di IKN, Kalimantan Timur, terdampak paparan partikulat PM2.5. Hingga Selasa (26/8/2026) pukul 05.00 WIB, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kawasan tersebut tercatat mencapai 138.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Suyanti, mengatakan angka tersebut menempatkan IKN dalam kelompok wilayah dengan kualitas udara tidak sehat.
“Dan di IKN Kalimantan Timur masuk kategori kualitas udara yang tidak sehat,” ujar Suyanti dalam paparannya pada media briefing secara daring, Rabu (26/8/2026).
Kategori tidak sehat sendiri berada pada rentang nilai ISPU 101 hingga 200. Dalam kondisi tersebut, kualitas udara mulai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki kerentanan seperti penderita asma maupun penyakit jantung.
Kondisi serupa tidak hanya terjadi di IKN. Sejumlah daerah lain juga tercatat berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat, di antaranya Bengkalis dan Sangkurus di Riau, Banyuasin serta kawasan Bukit Kecil di Palembang, Sumatera Selatan, Sambas Dalam Kaum di Kalimantan Barat, hingga beberapa wilayah di Kalimantan Tengah.
Sementara itu, situasi yang lebih buruk tercatat di sejumlah daerah dengan kualitas udara kategori sangat tidak sehat. Wilayah tersebut antara lain Pelalawan di Riau, Penukal Abab Lematang Ilir dan Ogan Ilir di Sumatera Selatan, Pontianak Tenggara di Kalimantan Barat, serta Gunung Mas dan Katingan di Kalimantan Tengah.
Kategori sangat tidak sehat berada pada rentang ISPU 201 hingga 300, yang menunjukkan risiko gangguan kesehatan semakin meningkat. Dalam kondisi seperti itu, bukan hanya kelompok rentan, masyarakat secara umum juga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat, khususnya kelompok sensitif, untuk mengurangi paparan udara luar dan menghindari aktivitas fisik berat ketika kualitas udara memburuk. Warga juga diminta memperhatikan kondisi tubuh dan segera mencari pertolongan medis apabila keluhan kesehatan semakin berat.
Adapun apabila kualitas udara mencapai kategori berbahaya, risikonya dinilai jauh lebih serius sehingga masyarakat dianjurkan sebisa mungkin menghindari paparan udara di luar ruangan.
Memburuknya kualitas udara hingga menjangkau kawasan IKN menunjukkan dampak karhutla tidak mengenal batas administrasi. Ketika api dan asap masih menjadi persoalan di berbagai wilayah Kalimantan dan Sumatera, ibu kota baru yang tengah dibangun sebagai simbol masa depan Indonesia pun tak sepenuhnya bisa menghindari dampaknya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














