
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta meluncurkan program NU Peduli, sebuah gerakan yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Program tersebut menjadikan coffee shop sebagai salah satu titik awal gerakan karena dinilai memiliki kedekatan dengan kalangan anak muda. Melalui program ini, sampah dari coffee shop tidak dipungut sebagai retribusi, melainkan disedekahkan untuk kemudian dikelola dan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat.
Peluncuran NU Peduli dilakukan setelah Upacara Bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor PCNU Surakarta, Senin (17/8/2026).
Program tersebut melibatkan tiga lembaga di bawah PCNU Surakarta, yakni Gerakan Pemuda Ansor, Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu), serta Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU).
Ketua PC GP Ansor Kota Surakarta, Dwi Wisnu Wardana mengatakan, pihaknya menyiapkan tim khusus bernama Laskar Sapu Jagat yang beranggotakan Banser Kota Surakarta. Tim tersebut akan menjadi ujung tombak dalam membangun kemitraan dengan coffee shop sekaligus mengelola sampah yang disedekahkan.
“Laskar ini nanti bertugas membangun kemitraan dengan coffee shop-coffee shop. Hari ini sudah ada sekitar 10 coffee shop yang terdata sebagai mitra awal. Kami ingin menunjukkan rasa memiliki kota. Kota berseri harus ditunjukkan lewat aksi nyata di tengah masyarakat dengan menggalakkan sedekah,” ujar Wisnu, seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.
Menurut dia, Laskar Sapu Jagat tidak hanya akan mengambil dan mengelola sampah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Ketua Lazisnu Kota Surakarta, Ilham Nuha Perkasa mengatakan, konsep utama NU Peduli adalah “sedekah sampah”. Gerakan tersebut nantinya diwadahi dalam tajuk SALA (Sustainable Living Alliance) dengan sasaran utama kalangan anak muda dan konsumen coffee shop.
“Jadi mereka tidak kami tarik retribusi, tapi menyedekahkan sampahnya. Dari sedekah sampah itu akan jadi suatu gerakan. Hasil olahannya nanti untuk pergerakan isu lingkungan lain, penanaman pohon, bahkan dampak sosial seperti biaya pendidikan,” jelas Ilham.
Dengan skema tersebut, sampah tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan. Sampah yang memiliki nilai ekonomi akan dikelola sehingga hasilnya dapat dikembalikan untuk mendukung kegiatan lingkungan maupun program sosial.
Sekretaris PCNU Kota Surakarta, Ahmad Faruq menambahkan, coffee shop dipilih sebagai sasaran awal karena tempat tersebut saat ini menjadi salah satu ruang berkumpul yang banyak diminati anak muda.
“Ini gerakan muda NU. Coffee shop lagi digandrungi anak-anak muda. Jadi segmentasi pertama di situ. Tidak menutup kemungkinan nanti melebar ke bidang lain,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, tim NU Peduli akan melakukan pemilahan sampah, baik organik maupun anorganik. Keduanya akan diolah sesuai karakteristik dan potensinya.
Saat ini NU Peduli didukung satu armada operasional dan 10 personel Laskar Sapu Jagat. Selain mengandalkan aksi lapangan, gerakan tersebut juga akan diperkuat melalui pendekatan persuasif dan edukasi digital.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah bukan semata persoalan kebersihan, tetapi juga dapat menjadi gerakan ekonomi dan sosial yang memberikan manfaat lebih luas bagi Kota Surakarta. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














