Beranda Daerah Boyolali UNS Perkuat UMKM Bagong PS Boyolali Lewat Diversifikasi Olahan Ikan Patin

UNS Perkuat UMKM Bagong PS Boyolali Lewat Diversifikasi Olahan Ikan Patin

Tim dosen Program Studi D-3 Teknologi Hasil Pertanian Sekolah Vokasi UNS bersama mitra UMKM Bagong PS dan mahasiswa pendamping berfoto bersama usai kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Kegiatan tersebut diisi dengan pelatihan diversifikasi olahan ikan patin menjadi bakso dan otak-otak, sekaligus pendampingan pengemasan, pelabelan, perhitungan usaha, dan pemasaran produk | Foto: Dok. Prodi D3 Teknologi Hasil Pertanian Sekolah Vokasi UNS

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Potensi ikan patin hasil budidaya di Kabupaten Boyolali terus didorong agar tidak berhenti sebagai komoditas yang hanya dijual dalam bentuk segar.

Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Research Group-Food Technology and Innovation (RG-FTI) mendorong UMKM “Bagong PS” di Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, mengembangkan produk olahan berbahan baku ikan patin.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui program diversifikasi produk olahan ikan patin sebagai strategi peningkatan nilai tambah UMKM budidaya “Bagong PS” di Boyolali, Jawa Tengah.

Kegiatan dilaksanakan pada 16–17 Juli 2026 dengan melibatkan tim dosen Program Studi D-3 Teknologi Hasil Pertanian Sekolah Vokasi UNS.

Tim tersebut diketuai Dian Rachmawanti Affandi, S.TP., M.P., dengan anggota Indrati Kusumaningrum, S.Pi., M.Sc., Khusnul Khotimah, S.T.P., M.Sc., Rahmania Nur Afiah, S.Pi., M.Sc., dan Rahadina Praba Melati, S.T.P., M.Si. Kegiatan juga melibatkan lima mahasiswa sebagai pendamping lapangan.

Skema diversifikasi produk olahan ikan patin yang diperkenalkan tim pengabdian UNS kepada UMKM Bagong PS di Boyolali. Melalui pengolahan tersebut, ikan patin hasil budidaya dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah, antara lain bakso dan otak-otak ikan patin, sehingga memiliki peluang pasar yang lebih luas dibandingkan hanya dijual dalam bentuk ikan segar | Foto: Dok. Prodi D3 Teknologi Hasil Pertanian Sekolah Vokasi UNS

Selama ini, UMKM Bagong PS memiliki potensi bahan baku ikan patin dari kegiatan budidaya. Namun, pemanfaatan hasil budidaya tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan melalui pengembangan produk yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan ikan dalam bentuk segar.

Melalui program tersebut, tim riset RG-FTI memperkenalkan diversifikasi ikan patin menjadi bakso ikan patin dan otak-otak ikan patin.

Kedua produk tersebut dipilih karena relatif familiar bagi konsumen, memiliki peluang pasar yang luas, serta memungkinkan diproduksi pada skala UMKM.

“Diversifikasi produk diharapkan dapat memberikan alternatif bagi mitra agar hasil budidaya tidak hanya dipasarkan dalam bentuk ikan segar. Ikan patin dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis, memiliki nilai jual lebih tinggi, dan berpotensi menjangkau konsumen yang lebih luas,” jelas Dian Rachmawanti Affandi.

Pelatihan dilakukan dengan pendekatan demonstrasi dan praktik langsung. Peserta terlibat dalam seluruh tahapan, mulai dari penanganan bahan baku ikan patin, penimbangan bahan sesuai formulasi, pencampuran adonan, pembentukan produk, pemasakan, hingga evaluasi hasil.

Tim pengabdian kepada masyarakat UNS bersama mitra UMKM Bagong PS melakukan praktik langsung pengolahan ikan patin di Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Peserta mengikuti tahapan pengolahan bahan baku sebagai bagian dari pelatihan diversifikasi ikan patin menjadi produk olahan bernilai tambah, seperti bakso dan otak-otak ikan patin | Foto: Dok. Prodi D3 Teknologi Hasil Pertanian Sekolah Vokasi UNS

Sebelum teknologi diterapkan kepada mitra, tim terlebih dahulu menyiapkan dan menyesuaikan formula berbasis hasil pengembangan sebelumnya. Langkah tersebut dilakukan agar prosedur pengolahan dapat diterapkan secara lebih mudah sesuai kondisi produksi UMKM.

Tidak hanya keterampilan pengolahan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai mutu bahan baku, sanitasi, higiene, serta keamanan selama proses produksi.

Aspek tersebut dinilai penting karena produk berbasis ikan membutuhkan penanganan yang baik untuk mempertahankan mutu dan keamanan pangan.

Pendampingan kemudian dilanjutkan pada aspek pengemasan dan pelabelan produk. Bakso dan otak-otak ikan patin dikembangkan dalam bentuk produk siap masak dengan kemasan vakum agar dapat memperpanjang umur simpan.

Program pengabdian tersebut juga menyentuh aspek pengelolaan usaha. Peserta mendapatkan materi mengenai perhitungan biaya produksi, harga pokok produksi (HPP), penentuan harga jual, margin keuntungan, hingga simulasi laba.

Menurut tim pengabdian, kemampuan menghasilkan produk yang baik perlu diikuti dengan kemampuan menghitung biaya dan menentukan harga jual secara tepat. Dengan demikian, diversifikasi produk tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi UMKM.

Pada aspek pemasaran, mitra mendapat penguatan mengenai penentuan target konsumen, pengembangan identitas produk, promosi secara langsung maupun digital, serta pentingnya kemasan sebagai bagian dari komunikasi produk kepada konsumen.

“Tujuan kegiatan bukan hanya agar mitra mampu membuat bakso atau otak-otak ikan patin, tetapi agar mereka memahami rangkaian usaha mulai dari proses produksi, pengemasan, perhitungan biaya, hingga pemasaran. Dengan demikian, teknologi yang diberikan memiliki peluang lebih besar untuk benar-benar diterapkan,” tambah tim pengabdian.

Program tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan pelatihan dan transfer pengetahuan mendukung SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan pelaku UMKM.

Diversifikasi produk dan penguatan kemampuan usaha juga mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui upaya penciptaan nilai tambah dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Sementara itu, optimalisasi hasil budidaya melalui pengolahan pangan mendukung SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan pelaku UMKM juga sejalan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Ke depan, pendampingan diarahkan pada konsistensi mutu produk, penguatan pengemasan dan pelabelan, perhitungan usaha, serta strategi pemasaran.

Tim pengabdian UNS menyerahkan bantuan alat semi-auto vacuum sealer kepada mitra UMKM Bagong PS di Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Peralatan tersebut diharapkan mendukung pengemasan produk olahan ikan patin, khususnya bakso dan otak-otak, agar lebih praktis sekaligus membantu memperpanjang umur simpan produk | Foto: Dok. Prodi D3 Teknologi Hasil Pertanian Sekolah Vokasi UNS

Mitra diharapkan tidak hanya mampu memproduksi bakso dan otak-otak ikan patin saat pelatihan berlangsung, tetapi juga dapat mengembangkannya sebagai salah satu alternatif usaha berbasis hasil budidaya.

Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam mendiseminasikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat sekaligus memperkuat keterhubungan antara perguruan tinggi dan pelaku usaha lokal.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan ilmu pengetahuan menjadi solusi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Kegiatan tersebut  diharapkan menjadi awal bagi pengembangan produk olahan ikan patin yang berkelanjutan di UMKM Bagong PS. [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.