Beranda Daerah Wonogiri Proyek Gentengisasi Jateng Diluncurkan November 2026, Peluang atau Apa ya?

Proyek Gentengisasi Jateng Diluncurkan November 2026, Peluang atau Apa ya?

Genteng
Pemasangan genteng sebagai penutup bangunan hunian. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Program gentengisasi Jawa Tengah mulai masuk tahap persiapan dan dijadwalkan diluncurkan pada akhir November 2026. Angkanya tidak kecil, kebutuhan awal diperkirakan mencapai 1,1 juta keping genteng.

Program tersebut menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Namun, dampaknya tidak berhenti pada urusan atap rumah. Ketika kebutuhan genteng meningkat, rantai ekonomi di daerah ikut berpotensi bergerak, mulai dari industri kecil, jasa angkutan hingga toko material.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia mengatakan, kebutuhan genteng yang muncul dari berbagai program pemerintah dapat menciptakan efek ekonomi berantai.

“Kalau potensi ekonomi, pasti ini akan memberikan multiplier effect. Mulai dari UKM-nya sendiri, kemudian angkutan, hingga toko-tokonya, semua bergerak,” katanya, Rabu (7/10/2026).

Potensi pasar genteng lokal bahkan jauh lebih besar dibanding kebutuhan awal program gentengisasi. Data Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2025 mencatat, sebanyak 3.257 dari 7.532 unit rumah menggunakan genteng sebagai penutup atap.

Sementara untuk Program Bedah Rumah 2026, kebutuhan genteng diperkirakan mencapai sekitar 4,7 juta keping.

Artinya, kebutuhan genteng dari program perumahan pemerintah dapat menjadi pasar besar untuk industri genteng tanah liat di Jawa Tengah. Peluang tersebut sekaligus mendorong produsen lokal meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya.

Baca Juga :  Aturan Baru PIP 2026 Resmi Berubah! TK Kini Kebagian, Simak Nominal Bantuan dan Nasib Rekening Siswa

Berdasarkan identifikasi Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Jawa III, terdapat 21 produsen atau unit usaha genteng tanah liat yang tersebar di delapan kabupaten.

✓ Banyumas
✓ Pekalongan
✓ Banjarnegara
✓ Kebumen
✓ Jepara
✓ Grobogan
✓ Sukoharjo
✓ Kabupaten Magelang

Pemprov Jawa Tengah juga menyiapkan penguatan dari sisi mutu produk. Para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) didorong mengikuti pengujian mutu, pendampingan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta peningkatan kapasitas produksi.

Untuk 21 IKM tersebut, kebutuhan biaya pengujian mutu mencapai Rp20,58 juta. Sementara sertifikasi SNI diperkirakan membutuhkan Rp220,5 juta.

Total kebutuhan pembiayaan mencapai Rp241,08 juta. Bank di Jateng telah menyatakan dukungan terhadap pembiayaan tersebut.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan mengatakan, program gentengisasi juga akan dikaitkan dengan Program Tiga Juta Rumah.

Pada tahap awal, genteng produksi lokal akan digunakan dalam proyek bedah rumah pemerintah. Selanjutnya, pemprov membuka peluang agar penggunaan genteng tersebut meluas ke proyek perumahan komersial.

Baca Juga :  HEBOH! MBG Berbelatung Viral di Wonogiri, Siswa Mual Lihat Menu Ulat Putih

“Kami akan mencoba, barangkali ada pengembang atau developer yang kita dorong untuk ikut juga mendukung program gentengisasi ini, dengan memanfaatkan genteng pada proyek-proyek perumahan mereka,” ujarnya.

Jika rencana tersebut berjalan, pasar genteng Jawa Tengah tidak hanya bergantung pada proyek pemerintah. Penggunaan genteng lokal juga berpeluang masuk ke proyek perumahan yang dibangun pengembang.

Dengan kebutuhan awal 1,1 juta keping dan proyeksi kebutuhan sekitar 4,7 juta keping untuk Program Bedah Rumah 2026, program gentengisasi kini memiliki ruang untuk menggerakkan industri genteng dari tingkat produksi hingga distribusi. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.