Beranda Umum Opini Membangun Nalar Kritis dalam Pendidikan Sastra melalui Teori Dekonstruksi Jacques Derrida

Membangun Nalar Kritis dalam Pendidikan Sastra melalui Teori Dekonstruksi Jacques Derrida

Ilustrasi | Dok. Pribadi
Muhammad Aditya Wisnu Wardana Mahasiswa S-2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga

DEKONSTRUKSI Jacques Derrida mengajak kita membaca kembali sesuatu yang selama ini dianggap memiliki makna tetap. Dekonstruksi tidak bertujuan menghancurkan makna, melainkan membuka struktur bahasa, oposisi, hierarki, dan asumsi yang membuat suatu makna terlihat pasti. Pembacaan semacam ini membuat kita menyadari bahwa sebuah teks dapat memiliki ketegangan dan kemungkinan pemaknaan yang lebih luas.

Salah satu konsep penting dalam dekonstruksi adalah oposisi biner. Bahasa sering membentuk pemahaman melalui pasangan seperti benar dan salah, baik dan buruk, pusat dan pinggiran, laki-laki dan perempuan, serta subjek dan objek. Salah satu posisi dalam pasangan tersebut sering ditempatkan lebih tinggi daripada posisi lainnya. Dekonstruksi mempertanyakan bagaimana hierarki tersebut terbentuk dan menunjukkan bahwa kedua sisi sebenarnya saling berkaitan dalam menghasilkan makna.

Derrida juga menjelaskan bahwa makna tidak pernah berdiri secara mandiri. Sebuah kata memperoleh makna melalui perbedaannya dengan kata lain. Konsep ini berkaitan dengan différance, yaitu proses perbedaan sekaligus penundaan makna. Makna terus bergerak karena setiap tanda membutuhkan tanda lain untuk menjelaskan dirinya. Pemahaman tersebut membuat pembaca tidak terburu-buru menganggap suatu pengertian sebagai makna yang paling akhir.

Konsep trace atau jejak memperlihatkan bahwa setiap tanda membawa jejak dari tanda lain. Ketika seseorang mengatakan “modern”, terdapat jejak “tradisional” yang ikut membentuk pengertiannya. Ketika berbicara tentang “pusat”, terdapat “pinggiran” yang membuat posisi pusat dapat dikenali. Sesuatu yang tidak disebutkan secara langsung tetap dapat memiliki peran dalam pembentukan makna.

Dekonstruksi juga mengenalkan konsep supplement atau tambahan. Sesuatu yang disebut tambahan biasanya dianggap berada pada posisi sekunder. Derrida mempertanyakan anggapan tersebut karena sesuatu yang dianggap utama ternyata dapat membutuhkan sesuatu yang berada di luar dirinya. Kehadiran tambahan justru memperlihatkan bahwa sesuatu yang dianggap lengkap mungkin tidak sepenuhnya mandiri.

Pembacaan dekonstruktif dapat menemukan aporia, yaitu situasi ketika sebuah teks menghadirkan ketegangan yang tidak mudah diselesaikan melalui satu jawaban. Sebuah teks dapat membangun suatu makna sekaligus menghadirkan unsur yang menggoyahkan makna tersebut. Aporia memberikan ruang bagi pembaca untuk melihat kompleksitas teks tanpa memaksanya segera menjadi satu kesimpulan.

Konsep tersebut berkaitan dengan undecidability atau ketidakdapatdiputuskan secara mutlak. Undecidability tidak berarti bahwa semua tafsir dapat dianggap benar. Konsep ini menunjukkan bahwa makna tidak selalu dapat dikunci secara final. Penafsiran tetap membutuhkan dasar tekstual, konteks, bukti, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pemahaman dekonstruksi memiliki manfaat penting dalam dunia pendidikan, terutama untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Siswa tidak hanya diarahkan untuk menerima informasi sebagai sesuatu yang sudah pasti, tetapi diajak mempertanyakan bagaimana sebuah informasi dibentuk. Mereka dapat belajar melihat pilihan bahasa, asumsi, sudut pandang, hubungan antargagasan, serta posisi yang mendapatkan ruang dan posisi yang terpinggirkan.

Pembelajaran dengan perspektif dekonstruktif dapat mengubah posisi siswa dari penerima informasi menjadi pembaca yang aktif. Ketika membaca sebuah teks, siswa dapat bertanya mengapa penulis menggunakan kata tertentu, bagaimana tokoh ditempatkan, siapa yang diberi kesempatan berbicara, siapa yang tidak hadir, serta apakah terdapat pertentangan dalam teks tersebut. Pertanyaan semacam ini melatih siswa untuk tidak berhenti pada informasi permukaan.

Guru juga dapat menggunakan pendekatan tersebut dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan sastra. Sebuah cerpen, novel, berita, iklan, artikel, atau teks media sosial dapat menjadi bahan untuk menemukan oposisi biner dan membongkar hierarki yang terdapat di dalamnya. Siswa kemudian dapat membandingkan makna yang tampak dengan kemungkinan makna lain berdasarkan bukti yang terdapat dalam teks.

Dekonstruksi juga membantu membangun sikap terbuka terhadap perbedaan interpretasi. Siswa dapat memahami bahwa perbedaan pendapat tidak selalu menunjukkan kesalahan salah satu pihak. Perbedaan dapat muncul karena teks memiliki berbagai kemungkinan pemaknaan. Proses pembelajaran kemudian tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi juga melatih kemampuan menyampaikan alasan, mempertahankan argumentasi, dan menghargai pembacaan yang berbeda.

Manfaat lain terlihat dalam kemampuan siswa mengenali asumsi dan bias. Setiap teks membawa cara tertentu dalam menggambarkan realitas. Siswa dapat belajar mempertanyakan apakah suatu gambaran benar-benar netral atau terdapat perspektif tertentu yang bekerja di dalamnya. Kemampuan tersebut penting dalam menghadapi arus informasi digital yang semakin luas.

Dekonstruksi akhirnya dapat ditempatkan sebagai salah satu cara untuk membangun budaya berpikir kritis di sekolah. Siswa tidak diarahkan untuk selalu membantah informasi, tetapi dibiasakan memeriksa alasan di balik suatu pemahaman. Mereka belajar membaca secara teliti, mempertanyakan secara rasional, mencari bukti, serta menyadari bahwa suatu persoalan dapat memiliki lapisan makna yang berbeda.

Dengan demikian, dekonstruksi bukan sekadar teori filsafat yang berada jauh dari kehidupan pendidikan. Dekonstruksi dapat menjadi cara untuk melatih siswa membaca teks dan realitas secara lebih reflektif. Pendidikan tidak hanya mengajarkan peserta didik menemukan jawaban, tetapi juga membentuk keberanian untuk bertanya bagaimana sebuah jawaban menjadi mungkin. Sehingga dekonstruksi memiliki nilai penting sebagai praktik berpikir kritis di dunia pendidikan. [*]

Muhammad Aditya Wisnu Wardana                                                      Penulis adalah Mahasiswa S-2 Kajian Sastra dan Budaya                                Universitas Airlangga

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.