Beranda Daerah Sragen Jatah Raskin Bakal Dibagi Gratis. Wabup Sragen Minta Mentalitas Miskin Dikurangi..

Jatah Raskin Bakal Dibagi Gratis. Wabup Sragen Minta Mentalitas Miskin Dikurangi..

131
BAGIKAN
Wabup Sragen, Dedy Endriyatno bersama Kasubdivre Bulog, Kapolres, Dandim saat melaunching program Bansos Rastra, Senin (22/1/2018). Foto/JSnews

SRAGEN– Pemerintah melalui badan urusan logistik (Bulog) memutuskan akan mengurangi kuantitas bantuan beras sejahtera (Rastra) pengganti progran raskin dari 15 kg setiap bulan menjadi 10 kg.  Ada 76.362 keluarga miskin atau keluarga penerima manfaat (KPM)  di Sragen yang akan menerima bansos rastra sepanjang tahun 2018.

Hal itu terungkap dalam launching progran bansos rastra yang dilakukan Bulog dan Pemkab di Gudang Bulog Duyungan,  Sidoharjo,  Senin (22/1/2018). Kepala Sub Divre Bulog Surakarta,  Titov Agus Sabela mengatakan untuk Sragwn program Bansos Rastra akan diberikan kepada 76.362 KPM dengan alokasi perbulan 763.620 kg.

“Itu alokasi untuk 20 kecamatan dan 208 desa di Sragen. Ini launching kedua setelah di Sukoharjo. Meski turun dari 15 kg menjadi 10 kg,  tapi masyarakat tidak perlu menebus lagi, ” paparnya.

Menurut Titov,  penyaluran bansos rastra masih sama seperti raskin yakni bisa lewat kantor desa atau kelurahan. Dinas terkait yang nantinya akan mengurusi teknis penyaluran dan penentuan titik penyaluran.

Ia juga berharap pemahaman masyarakat bahwa bansos rastra hanya diberikan kepada pemilih hak KPM.  Program bansos rastra akan berjalan hingga akhir 2018 dengan kualitas berasnya medium.

Sementara,  Wabup Sragen,  Dedy Endriyatno yang hadir mewakili bupati,  berharap program bansos rastra bisa memberikan manfaat bagi keluarga penerima. Ia juga berharap pola pikir masyarakat yang sudah sejahtera juga bisa diubah sehingga tidak ada lagi pemerataan jatah rastra.

Baca Juga :  Bawa 45 Bacaleg, Golkar Jadi Pendaftar Pertama di KPU Sragen. Sejumlah Wajah Baru Disiapkan Bikin Kejutan

Sebab ia mengaku banyak menerima keluhan dari warga maupun Ketua RT yang memprotes adanya ketidaksesuaian penerima rastra dan kecemburuan dari warga yang tidak menerima.

“Enam bulan lalu saya kedatangan Ketua RT yang menyampaikan antara warga yang disurvei dengan yang dapat beda. Yang disurvei ini ini tapi yang dapat malah ini ini. Bawa foto-foto rumah warganya juga. Kami harap dinas terkait bisa koordinasi dengan propinsi atau pusat terkait data. Karena warga itu nggak mau tahu. Sing salah sopo ra penting, mereka tahunya sing cedak sopo sing iso disalahkan sopo,” paparnya.

Ia juga meminta agar masyarakat merubah mentalitas kemiskinan. Pasalnya dari laporan yang diterimanya saat kunjungan di Sragen Utara,  banyak warga yang cemburu karena tidak menerima rastra atau raskin. Wardoyo

 

 

.