loading...
Loading...
Paun Maharani mendengarkan penjelasan Willem Rampangilei di sela rakernas. Dok. BNPB

NUSA DUA–Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rabu malam (21/2/2018) di Nusa Dua Convention Center, Bali.

Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam rilisnya mengatakan, di hadapan para pejabat BNPB dan BPBD provinsi, kabupaten dan kota seluruh Indonesia, Puan menyampaikan bahwa salah satu yang perlu menjadi perhatian dari jajaran BNPB dan BPBD adalah membangun sinergi penanggulangan bencana antara kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Di samping itu, Puan menekankan pembangunan kesiapsiagaan berbasis rakyat dan peringatan dini. Tiga hal tersebut selaras dengan arah kebijakan pemerintah pusat dalam penanggulangan bencana, sebagaimana ditetapkan pada RPJMN 2015-2019.

“Diarahkan pada upaya pengurangan risiko bencana dan meningkatkan ketangguhan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana,” kata dia.

Keberhasilan dalam manajemen penanggulangan bencana sangat ditentukan oleh gotong royong dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB–BPBD dan masyarakat. Sebab itu, jelas dia. agar gotong royong manajemen penanggulangan bencana dapat berjalan dengan efektif, diperlukan pemahaman yang sama antara seluruh pemangku kepentingan bagaimana mengimplementasikan manajemen penanggulangan bencana yang efektif.

Baca Juga :  Video Narsis Sambil Telanjang Menyebar ke Medsos, Janda Muda di Sumenap Harus Berurusan Dengan Polisi

Dalam konteks rakernas, Puan mengharapkan BNPB dan BPBD mampu memformulasikan berbagai agenda strategis pembangunan kapasitas. Rakernas ini merupakan momentum yang baik dalam membangun kapasitas individu, kelembagaan, program dan kegiatan BNPB–BPBD agar penanggulangan bencana di Indonesia semakin efektif.

Tantangan penanggulangan bencana di Indonesia sepanjang 2017 sangat besar. Berdasarkan data BNPB, sebanyak 2.372 kejadian bencana terjadi pada tahun lalu. Meskipun jumlah ini lebih kecil dibandingkan tahun 2016, jumlah kejadian bencana sangat tinggi. Pada Januari 2018 ini saja, BNPB mencatat 204 kejadian bencana dan menimbulkan korban jiwa meninggal hingga 19 jiwa. Dilihat dari tren kejadian, bencana hidrometeorologi tetap menjadi yang paling dominan dengan tanah longsor sebagai bencana paling mematikan.

Sementara itu, Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan bahwa rakernas ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, serta kapasitas manajerial di tingkat pimpinan BPBD. Juga meningkatkan keterpaduan rencana kerja pusat dan daerah dalam mencapai sasaran RPJMN 2015 – 2019, serta kapasitas pengetahuan melalui knowledge sharing.

Willem menyampaikan rakernas ini sangat istimewa. Selain bertempat di Pulau Dewata nan indah, penyelenggaraan rakernas tahun ini masih dalam suasana HUT BNPB yang telah berkarya 10 tahun.

Baca Juga :  Viral Video Balita Sedang Tidur Pulas Dibangunkan Paksa Demi Ulang Tahun, Netizen Berkomentar Negatif, Ini Kata Dokter

“Selama kurun waktu tersebut, kami telah banyak belajar dan terus belajar dari setiap penanggulangan bencana yang terjadi di daerah. Kami juga mengharapkan bapak dan ibu dapat belajar penanggulangan bencana dari daerah lain dan terus mengembangkan diri sehingga mampu memberikan penyelenggaraan penanggulangan bencana yang berkualitas,” tutur dia.

Rakernas yang dihadiri sekitar 3.000 peserta dari kota, kabupaten dan provinsi ini menghadirkan diskusi knowledge sharing dari kepala daerah dan penggiat kemanusiaan dan narasumber dari kementerian/lembaga seperti dari Kemendagri, Kementerian PAN dan RB, Kementerian PUPR, Bappenas, BMKG, BPKP, Komisi VIII DPR RI dan Komite 2 DPD RI, serta Kantor Staf Presiden. Aris Arianto

Loading...