JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Warga Gemolong Sragen Desak Oknum Guru Cabuli Siswi Ditangkap. Begini Jawaban dari Polres Sragen

Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi didampingi Psikolog Dewi Novita saat memberikan terapi psikis kepada siswi SD di Gemolong yang menjadi korban pencabulan gurunya, Kamis (22/2/2018). Foto/Istimewa
Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi didampingi Psikolog Dewi Novita saat memberikan terapi psikis kepada siswi SD di Gemolong yang menjadi korban pencabulan gurunya, Kamis (22/2/2018). Foto/Istimewa

SRAGEN– Warga di wilayah Gemolong mempertanyakan sikap Polres Sragen yang belum menangkap oknum guru di sebuah SD di Desa Kalangan,  Kecamatan Gemolong berinisial SW (55) yang diduga melakukan pencabulan terhadap sejumlah siswinya. Hal itu juga diakui oleh Kasat Reskrim AKP Yuli Monasoni, Rabu (28/2/2018).

“Memang kemarin warga juga mendesak dan menanyakan kok nggak segera ditangkap. Kami sampaikan bahwa untuk memproses kan butuh minimal dua alat bukti. Sementara sampai sekarang kami belum bisa memintai keterangan dari salah satu siswi yang menjadi korban. Dia masih trauma berat, ” paparnya mewakili Kapolres AKBP Arif Budiman.

Kasat Reskrim menguraikan sejauh ini kendala terbesar menuntaskan kasus itu adalah belum terpenuhinya alat bukti. Korban, sebut saja Mawar (11), hingga detik ini belum bersedia dimintai keterangan meski tim sudah mendatangi rumahnya bersama dinas sosial dan tim Pemkab.

“Kita kan nggak bisa memaksa karena itu kaitannya juga dengan privacy. Kemarin tim sudah ke sana tapi korban belum mau membuka memberi keterangan, ” tukasnya.

Baca Juga :  Sering Dipakai Maksiat, Gudang SPBE Miri Sragen Digerebek Polisi. Tiga Orang Ditangkap Saat Sedang Main Beginian!

Perihal keterangan dari Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) yang menyampaikan jumlah korban diperkirakan 13 siswi,  Yuli mengaku belum bisa berkomentar. Pihaknya masih menunggu hasil pendalaman dan penyelidikan terlebih dahulu.

Sebelumnya, Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen,  Sugiarsi,  Sabtu (24/4/2018) mengatakan dari keterangan korban sebut saja Mawar (11), aksi tak senonoh yang dilakukan gurunya itu dialami juga oleh korban lain. Pasalnya kasus pencabulan itu disebut dilakukan pelaku sejak 2010 hingga sekarang.

“Diperkirakan ada 13 siswi yang menjadi korban. Dari keterangan ibu korban saat kami terapi kemarin,  banyak yang sudah dibegitukan. Ada 13an anak.  Bahkan ada yang sudah lulus dan kerja juga, ” papar Sugiarsi.

Ketidakberanian korban untuk melapor karena takut dan malu,  adalah faktor yang kemudian membuat pelaku makin ketagihan dan melakukannya ke siswi.

Baca Juga :  Dinilai Langgar Kode Etik, 5 Anggota Bawaslu Sragen Disidang DKPP di Solo Pagi Ini, Masyarakat Dapat Menyaksikan Lewat Medsos Ini

Menurut Sugiarsi,  perbuatan bejat guru itu dilakukan di sekolahan dan makin liar karena dilakukan di kamar mandi sekolah,  di kelas bahkan di setiap tempat yang ada celah kesempatan ia melakukan.

“Nggak pandang lokasi dan waktu. Kata korban di mana ada kesempatan di situ pelaku melakukan pencabulannya, ” terangnya.

Bahkan saking traumanya dan nggak tahan menjadi pelampiasan nafsu bejat sang guru, Bunga akhirnya memilih berhenti sekolah sejak tahun 2018 ini. Padahal siswi manis itu sudah duduk di kelas V dan tinggal satu tahun lagi menamatkan bangku SD.

Atas kasus itu,  Sugiarsi mendesak Polres Sragen segera bertindak tegas. Sebab hingga kini pelaku masih belum ditahan.

“Takutnya korbannya makin banyak, ” jelasnya.

Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman mengatakan saat ini masih dilakukan pendalaman dan penyelidikan atas kasus tersebut. Wardoyo