JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Film Kisah Seniman Korban Orde Baru, Bakal Awali Solo Documentary Film Festival 2018. Catat Tanggal Pemutarannya, Ada Vouchernya Juga!

Film Tarung yang akan diputar di SODOC Film Festival di Lawang Djoenjing Solo, 30 Maret 2018. Foto/Istimewa
Film Tarung yang akan diputar di SODOC Film Festival di Lawang Djoenjing Solo, 30 Maret 2018. Foto/Istimewa

SOLO- Sebuah kelompok pegiat film documenter Solo yang tergabung dalam Solo Documentary (SODOC) bakal menggelar festival film documenter untuk tahun kedua 2018. Bertepatan dengan Hari Film Nasional tanggal 30 Maret 2018, SODOC Film Festival akan menggelar pemutaran film dan diskusi yang akan dimoderatori oleh Halim Hardja (Halim HD) di Lawang Djoendjing tepatnya di Jl. Gunung kelud II No. 7, Dukuhan Nayu, Kadipiro, Banjarsari, Kota Surakarta.

Hal itu disampaikan Direktur Festival SODOC FIFEST, Fatimah Liliani melalui rilis yang diterima JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (27/3/2018). Dalam rilisnya, ia menyampaikan agenda pemutaran film di Lawang Djoendjing itu akan dimulai pada pukul 19.00 WIB dengan donasi Rp13.000,- untuk ditukarkan voucher makan di Lawang Djoendjing.

“Film yang akan diputar berjudul “Tarung” karya Steve Pillar Setiabudi, film ini bercerita tentang Sanggar Bumi Tarung yang terdiri dari sekelompok seniman muda dan mereka menjadi korban kekerasan pada masa Orde Baru,” paparnya.

Baca Juga :  Front Pemuda Madura Ajak Pemuda Bangkit Di Tengah Pandemi Adopsi Semangat Pertamina

Melalui film tersebut, SODOC Film Festival ingin menyampaikan bahwa di Hari Film Nasional, masyarakat harus mempunyai pemikiran terbuka terhadap segala keberagaman dan kebenaran yang ada.

Rangkaian acara SODOC Film Festival sendiri, menurutnya, tidak hanya ditujukan untuk pembuat maupun penikmat film saja, namun masyarakat umum juga dapat berpartisipasi untuk memeriahkan SODOC Film Festival 2018.

Sementara, tahun 2018 ini, SODOC Film Festival kembali bakal menggelar festival untuk kali kedua dengan mengangkat tema “Merekam Refleksi Keberagaman”. Pengambilan tema tersebut karena dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia masih sering terjadi konflik antar individu, golongan, kelompok yang dilatar belakangi oleh perbedaan – perbedaan yang ada.

“SODOC Film Festival juga menggelar rangkaian kegiatan mulai dari kompetisi dengan kategori Pelajar (SMA/SMK sederajat), Mahasiswa, dan Umum,” terangnya.

Baca Juga :  Bawaslu Sragen Tolak Dugaan Langgar Kode Etik, Begini Sanggahan Mereka

Selanjutnya Roadshow pemutaran film dokumenter di berbagai daerah khususnya di Solo, Kemudian Masterclass pembuatan film dokumenter, dan untuk Puncak acara pada tanggal 19 Oktober – 21 Oktober 2018 sebagai malam penganugerahan terhadap film dokumenter dan filmmaker yang terpilih.

Ditambahkan, Solo Documentary (SODOC) Film Festival merupakan sebuah festival film dokumenter pertama di Kota Solo. SODOC Film Festival bermula dari keresahan sekelompok Pemuda akan kurangnya intensitas pemutaran film dokumenter di Kota Solo.

Awalnya SODOC Film Festival adalah kegiatan yang berada dibawah naungan sebuah Lembaga Pendidikan. Namun, di tahun kedua ini SODOC Film Festival memilih untuk berdiri sendiri dan membuat sebuah perkumpulan bernama Solo Documentary.

Saat ini kantor operasional Solo Documentary berada di Jl. Jenggolo Utara II No. 57 RT 002 RW 005, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Wardoyo