JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Harga BBM Pertalite Dinaikkan Jadi Rp 7.800 Hingga Rp 8.150. Begini Alasan Pertamina..

Ilustrasi Pertalite. Foto/Tempo.co
Ilustrasi Pertalite. Foto/Tempo.co

JAKARTA-  Pertamina resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalita sebesar Rp 200 mulai Sabtu, 24 Maret 2018, pukul 00.00 WIB. Kepastian itu disampaikan Pertamina melalui pemberitahuan di situsnya yang mengumumkan harga BBM beroktan 90 itu mengalami kenaikan.

Namun nominal kenaikan berbeda antara beberapa wilayah.  Di Pulau Jawa harga Pertalite naik menjadi Rp 7.800 perliter, atau naik Rp 200.

Harga ini juga berlaku untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara, Aceh, Sumatera Utara dan Sumbatera Barat.

Sementara untuk wilayah Sumatera lainnya, Pertalite dijual Rp 8000, sedangkan untuk Riau dan Kepulauan Riau dijual Rp 8.150.

Baca Juga :  Polisi Ungkap Ada Dugaan Tindak Pidana dalam Insiden Kebakaran di Kejakgung, Sebut Asal Api Bukan Akibat Korsleting

Kenaikan Rp 200 rupiah juga terjadi untuk penjualan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, sehingga harga Pertalite menjadi Rp 8000.

Pertamina tidak menaikkan Pertalite ketika bahan bakar non-subsidi lain dinaikkan pada 24 Februari 2018.

Unit Manager Communication and CSR PT Pertamina MOR I, Rudi Arifianto saat dikonfirmasi di Pekanbaru, Minggu, membenarkan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertalite.

“Penyebab naiknya dipicu tren harga minyak mentah dunia dan kurs rupiah terhadap dolar,” katanya.

Baca Juga :  Ketua KPU Positif Covid-19: Kantor KPU Bakal Disterilisasi, Para Pegawai Bekerja dari Rumah hingga Selasa

Menururnya harga minyak merupakan komoditas energi global yang harganya tidak dapat dikontrol karena sangat dipengaruhi pasar global. Apabila harga minyak turun, dan kurs rupiah menguat atau setidaknya stabil, penyesuaian turun pun harus dilakukan.

“Jadi, ini murni karena fluktuasi harga minyak dunia dan kurs. Pertamina bisa mengontrol hal-hal yang dalam kendalinya, seperti efisiensi operasi. Itu mengapa harga kita masih sangat bersaing jika dibandingkan dengan BBM sejenis yang dijual oleh badan usaha lainnya,” katanya.

www.tempo.co