JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Pengakuan 2 Putri Suji, Keluarga Pengedar Uang Palsu. Sempat Edarkan Upal di Pasar Gemolong dan Gabugan Tanon

Suji dan dua putrinya saat diamankan di Mapolres Sragen Kamis (22/3/2018). Foto/Wardoyo
Suji dan dua putrinya saat diamankan di Mapolres Sragen Kamis (22/3/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Uang palsu (Upal) yang diedarkan oleh keluarga Sujintoro (51), asal Dukuh Jimbar Kulon RT 1.5, Guworejo, Karangmalang ternyata sempat berhasil diedarkan ke beberapa pasar tradisional. Sebelum tertangkap di Pasar Jati Tengah, Sukodono Rabu (21/3/2018), dua putri Suji, Hartatik alias Tatik (30) dan Yunarmi alias Yunna (20), mengaku sudah sempat berhasil mengedarkan uang palsu produksi bapaknya ke beberapa pasar.

“Sebelumnya di Pasar Gemolong dan di Pasar Gabugan (Tanon),” ujar Tatik saat ditemui di Mapolres Sragen, Kamis (22/3/2018).

Baca Juga :  Tambah 6 Positif dan 1 Sembuh, Berikut Daftar Lengkap Pasien Positif Covid-19 Sragen Hari Ini. Ada 3 Orang dari Gemolong dan 2 dari Masaran!

Tatik yang diborgol bersama adiknya nomor tiga, Yunna, kemudian menuturkan dalam setiap beraksi mengedarkan upal, dia memang selalu berdua dengan adiknya itu. Sekali berangkat, kadang membawa upal sebanyak Rp 400.000 dan dibelanjakan ke pedagang-pedagang di pasar tradisional untuk mendapatkan kembalian uang asli.

Tatik yang sudah berkeluarga dan sebenarnya tinggal di Ngawi, Jatim itu mengakui baru seminggu menjalankan tugas sebagai pengedar upal di keluarganya. Saat ditanya darimana upal didapat, ia sempat menyebut dapat dari Mas Wawan dari Gondang.

Baca Juga :  Geger Mayat Pria Ditemukan Tergeletak di Persawahan Desa Jurangjero Karangmalang Sragen. Saat Ditemukan Dalam Kondisi Begini!

Namun saat dicecar bagaimana cara dia mendapat dan berapa harga belinya, Tatik mengungkap jawaban mencurigakan dengan menyebut bahwa upal itu diperolehnya gratis. Hal inilah yang menguatkan indikasi bahwa upal itu sengaja diproduksi oleh bapaknya. Hal itu diperkuat dengan temuan sekarung peralatan sablon dan printer yang ditengarai memang khusus untuk mencetak uang palsu.

“Uang itu dikasih, nggak beli,” akunya.

Saat ditanya kenapa sampai harus mengedarkan uang palsu, Tatik beralasan awalnya dia tak tahu jika uang itu palsu. Wardoyo