JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Pidato Usai Dipecat, Mantan Menlu AS Ucapkan Terima Kasih Untuk Rakyat dan Militer, Tapi Tidak Untuk Trump

 

Tribunnews

WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memecat Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, Selasa (13/3/2018).

Dia memilih Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA) Mike Pompeo sebagai pengganti Tillerson. Sementara, posisi direktur CIA diisi Gina Haspel. Dengan begitu, CIA bakal dipimpin seorang perempuan untuk pertama kalinya.

Dalam pidatonya setelah dipecat Trump, The Hill melaporkan, Tillerson tidak menyebutkan nama orang nomor satu di AS itu, dan hanya memanggilnya dengan presiden.

Dia mengapresiasi pejabat kementerian luar negeri dan kementerian pertahanan atas kinerjanya selama ini.

Baca Juga :  50 Negara Jatuh ke Jurang Resesi Gara-gara Pandemi Covid-19, Mulai dari Malaysia hingga Amerika Serikat. Ini Daftar Lengkapnya

Tak lupa, Tillerson mengucapkan terima kasih kepada anggota militer dan masyarakat AS, tapi tidak kepada Trump.

“Saya menerima panggilan hari ini dari presiden AS setelah siang hari dari Air Force One, dan saya juga telah berbicara dengan kepala staf Gedung Putih (John) Kelly untuk memastikan kejelasan hari-hari mendatang,” katanya.

“Apa yang penting saat ini adalah mematiskan transisi yang tertib dan lancar, di mana negara terus menghadapi tantangan kebijakan dan keamanan nasional,” tambahnya.

Dilansir dari CNN, Tillerson mengatakan masa jabatannya akan berakhir pada 31 Maret 2018.
Selain mengucapkan apresiasi, dia menyoroti pencapaian penting sejak tahun pertamanya menjabat sebagai menlu, termasuk upayanya untuk membawa Korea Utara sampai ke meja perundingan.

Baca Juga :  Pecandu Narkoba Ini Sumbangkan Ginjalnya untuk Polisi yang Berkali-kali Menangkapnya

“Bekerja sama dengan sekutu, kami melampau harapan hampir semua orang dengan tekanan maksimum terhadap Korea Utara,” ucapnya.

Dia juga menggarisbawahi kemajuan di Afghanistan dan kampanye global melawan ISIS di Suriah.

Tillerson juga menyinggung mengenai Rusia. “Masih banyak pekerjaan untuk menanggapi perilaku dan tindakan menganggu dari pihak pemerintah Rusia,” katanya.

www.tribunnews.com