JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Hasil Mutasi Perdes di Banaran Sragen Diprotes Pemdes dan Warga. 2 Calon Terbaik Justru Gagal Dengan Nilai Terburuk

Lembar pengumuman hasil seleksi mutasi Perdes di Desa Banaran, Sambungmacan dari LPPM UNS yang memicu protes karena dianggap sarat kejanggalan. Foto/Wardoyo
Lembar pengumuman hasil seleksi mutasi Perdes di Desa Banaran, Sambungmacan dari LPPM UNS yang memicu protes karena dianggap sarat kejanggalan. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Protes terhadap hasil seleksi mutasi perangkat desa (Perdes) di Sragen terus bermunculan. Kali ini Pemdes Banaran,  Kecamatan Sambungmacan memprotes hasil seleksi yang ditengarai sarat permainan dan tak sesuai realita.

Protes dilontarkan Kades Banaran, Susilo, Selasa (17/4/2018). Kepada wartawan,  ia mengungkapkan rasa kecewa dan kesalnya atas hasil uji kompetensi dan seleksi mutasi yang dianggap tidak obyektif.

Pasalnya,  dari empat perangkat yang mendaftar mutasi, calon yang justru berkompeten dari segi pendidikan, PDLT hingga kinerja,  malah di luar dugaan tidak lulus.

Ia juga mempertanyakan selisih nilai antara mereka yang terpaut sangat mencolok. Di mana dua calon Kadus paling berkompeten justru hanya dapat nilai 54.00 dan 59.00. Sedangkan dua calon lainnya yakni satu Kadus lolos dengan nilai 73.80 dan satu calon Sekdes lolos dengan nilai fantastis 80.25.

“Kami melihat sangat-sangat tidak logis. Bagaimana mungkin perangkat yang paling pinter,  menguasai komputer, enam tahun jadi PJ Kadus malah hanya dapat nilai paling rendah se kecamatan. Bisa ditanya,  hampir perangkat se kecamatan pada kaget dia sampai nggak lulus,  apalagi dengan nilai paling jelek. Lalu satu calon Kadus yang sudah mumpuni juga nggak lulus hanya dapat nilai 59.00,” paparnya Selasa (17/4/2018).

Baca Juga :  Duh Gusti, Guru SMPN Mondokan Asal Sragen Tertangkap Razia Satpol PP di Karangmalang. Total 46 Pelanggar Masker Akan Dilaporkan ke Gubernur, 30 Orang Harus Bayar Rp 50.000

Ia juga mengaku tak habis pikir dengan dasar penilaian yang digunakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS. Pihaknya merasa hasil itu tidak obyektif dan sarat dengan indikasi permainan.

Menurutnya hasil itu juga melanggar UU Desa lantaran mengesampingkan Kades yang sama sekali tak dilibatkan terutama dalam memberikan penilaian PDLT (Prestasi,  Dedikasi,  Loyalitas dan Tidak Tercela).

“Singkatnya PDLT dan penilaian dari Kades maupun masyarakat sama sekali enggak dianggap. Ini masyarakat di Kebayanan Kiping dan satu kebayanan yang calonnya nggak lulus juga pada kecewa,” tuturnya.

Ia menduga proses penilaian dan penentuan hasil memang lebih dipengaruhi kekuatan besar yang berusaha mengatur dan campur tangan. Tanpa menyebut oknum,  Susilo menengarai ada kekuatan di pemerintahan kabupaten yang berusaha merusak skenario hasil demi kepentingan tertentu.

“Sampai detik ini kami dan masyarakat masih kecewa. Bukan apa-apa,  karena memang calon yang disukai dan diharapkan warga,  malah nggak diluluskan. Pemikiran saya akhirnya sama dengan Kades-kades yang lain. Bahwa proses ini memang sudah nggak fair. Ada orang pemerintahan yang berusaha mempermainkan, ” tukasnya.

Kemudian lembar hasil seleksi juga tidak disertai stempel sebagai lembaga pendidikan formal.

Baca Juga :  Sama Seperti Gibran, Cabup Petahana Sragen Juga Akui Punya Hutang Rp 1,5 Miliar Untuk Bayar Cicilan KPR. Ini Lokasi Rumah Kreditannya! 

Soal kemungkinan wacana mengajukan gugatan PTUN,  Susilo mengaku masih melihat perkembangan. Ia hanya berharap ada keadilan bagi perangkat desanya.

Terlebih hasil seleksi di desanya,  saat ini justru memicu keresahan dari warga yang merasa tak terima dengan hasil yang dianggap tidak mewakili aspirasi masyarakat.

“Mudah-mudahan ini menjadi perhatian bagi LPPM UNS dan Pemkab, ” tandasnya.

Keluhan senada juga muncul dari banyak Kades. Bahkan Ketua LSM Forum Masyarakat Sragen,  Andang Basuki mengaku banyak mendapat keluhan dan laporan soal hasil seleksi mutasi Perdes yang dianggap banyak permainan dan tidak obyektif.

“Hampir sebagian besar Kades kecewa karena hasilnya banyak kejanggalan dan mencurigakan. Banyak calon sarjana dan menguasai komputer serta berkompeten malah nggak lulus. Ini yang menjadi kecurigaan,  ada apa? ” tandasnya.

Sementara, Sekda Sragen,  Tatag Prabawanto menyampaikan bahwa proses mutasi sepenuhnya menjadi kewenangan LPPM UNS.

Di sisi lain,  pihak LPPM tetap bungkam. Namun Rektor UNS,  Ravik Karsidi menyampaikan masih di luar kota. Pihaknya menjanjikan akan segera melakukan klarifikasi terkait protes dan kisruh mutasi Perdes di Sragen. Wardoyo