JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Miris, Angka Golput di Sragen Cenderung Naik 5 % Dari Gelaran Pemilu ke Pemilu

Ilustrasi Pilkada Serentak
Ilustrasi Pilkada Serentak

SRAGEN – Ada fakta memprihatinkan terkait angka partisipasi warga fari gelaran Pilkada ke Pilkada. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen mengungkapkan ada tren bahwa angka partisipasi pemilih di Sragen cenderung menurun dari satu Pilkada ke Pilkada lainnya.

Ketua KPU Sragen,  Ngatmin Abbas mengatakan kenaikan golput tiap gelaran pilkada selalu terjadi.  Ia menyebut angka golput selalu meningkat dari setiap gelaran pemilihan umum sekitar 5 persen.

”Kurang lebih sekitar itu, dan ini potensi yang besar untuk digarap untuk pemilih pemula masih minim,” ujarnya dalam sosialisasi yang dikemas dalam gelar seni puisi Sukowati Minggu (29/4/2018) di Pendopo Rumah Dinas Kabupaten Sragen.

Baca Juga :  Wilayah Rawan Kekeringan di Sragen Meluas. BPBD Sebut Naik 70 % Menjadi 249 Dukuh, Warga Tangen Mengaku Sudah Malu dan Bosan Didroping

Dia menyampaikan kegiatan kali ini menggandeng organisasi remaja putri Pengurus Daerah Nasiyatul Aisyiyah (PDNA) Sragen. Pihaknya menyampaikan sesuai kreatifitas lokal, gelaran pembacaan puisi bersamaan dengan peringatan hari puisi nasional ini agar cara sosialisasi tidak monoton. ”Sosialisasi disajikan agar tidak menjemukan, puisi untuk sosialisasi,” terangnya.

Dia menyampaikan puisi tidak mengandung unsur partisan atau dukungan ke partai dan tidak mengandung unsur SARA.

Puisi yang disajikan lebih kepada ajakan sosialisasi pada para pemilih, utamanya yang hadir saat itu sebagian besar remaja putri.

Ngatmin menyampaikan kebijakan lokal terus digali untuk pelaksanaan sosialisasi. Sosialisasi gencar diharapkan bisa menekan angka golput di kalangan pemilih.

Baca Juga :  Ramai-ramai Pilkada Ditunda, Bupati Sragen Tegaskan Penundaan Tanpa Kepastian Bukan Solusi. Sebut Dampak Kondusivitas, Legalitas Pemerintahan Hingga Potensi Polemik Berkepanjangan Perlu Dipikirkan!

Sementara itu, Ketua PDNA Laily Novrida menyampaikan  acara ini dibuat untuk sosialisasi pada pemilih pemula utamanya pelajar dan mahasiswa. Hal itu ditujukan untuk mengenalkan pemilih pemula agar tak gagap demokrasi.

”Kalau tidak dikenalkan mereka cenderung tidak peduli, pemilih pemula akan tau pentingnya demokratisasi di Indonesia,” terangnya.

Pihaknya berharap tidak ada golput dari pemilih pemula. Dia berharap pemilih pemula menggunakann haknya untuk pemimpin yang berkompeten untuk dipilih. Wardoyo