Beranda Umum Nasional Jasad Ibu Yang Ajak Anaknya Jadi Pelaku Bom Bunuh Diri Ditolak Keluarganya...

Jasad Ibu Yang Ajak Anaknya Jadi Pelaku Bom Bunuh Diri Ditolak Keluarganya di Banyuwangi

198
BAGIKAN
Tribunnews

SURABAYA – Jasad Puji Kuswati (42), salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya kini terkatung-katung. Ia merupakan satu dari 13 jenazah yang tak diakui oleh pihak keluarga.

Pihak kepolisian pun meminta agar keluarga mau mendatangi RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi jenazah dan pencocokan data primer dan sekunder.

“Ini untuk ketiga kalinya, mohon supaya keluarga Dita, Anton dan Tri bisa hadir ke RS Bhayangkara,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera.

Padahal, kedokteran forensik dan DVI RS Bhayangkara Polda Jatim, kata Barung sangat butuh data dari keluarga terduga teroris untuk mencocokan dengan jenazah.

“Ini terakhir, permohonan, nanti kami akan mengumumkan ke akun-akun resmi Polres jajaran,” jelas Barung.

Jika tidak, pihaknya akan memutuskan langkah, yakni melakukan pemakaman dan membicarakannya dengan Pemprov Jatim dan tokoh agama.

“Tujuh hari kedepan lah, bisa koordinasi dengan Pemprov dan tokoh agama,” imbuhnya.

Diketahui kalau jenazah Puji dan suami, Dita Oeprianto dan anak-anaknya ditolak di Banyuwangi.

Meski dia memiliki hubungan kerabat dan orangtuanya juga tinggal di Banyuwangi, pihak keluarga tetap tak ingin jenazah dimakamkan di Banyuwangi.

Namun belakangan, warga magetan bersedia menerima jenazah Puji dan juga Dita serta 4 anaknya untuk dimakamkan disana. Apa alasan warga Magetan ingin menerima jenazah keluarga pelaku teror bom gereja ini ?

Warga dan aparat Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan bersedia menerima jenazah Puji Kuswati, bomber di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya, bersama kelima anggota keluarganya, suami dan empat anaknya untuk di makamkan di pemakaman umum desa setempat.

Apalagi, Puji sudah sejak lama berpisah dengan keluarga di Banyuwangi, dan diasuh oleh bibinya di Magetan.

Kepala Desa Krajan Mujiono mengatakan, bumi dan isinya merupakan milik Tuhan YME, sehingga pihaknya dan warga tidak punya hak untuk menolak jika keluarga Puji Kuswati dimakamkan di desanya.

“Itulah yang jadi pertimbangan kami dan warga disini (Desa Krajan) bersedia menerima jenazah Puji Kuswati dan keluarganya,” ujarnya kepada Surya, Rabu (16/5/2018).

Sejak kecil, Puji diasuh oleh pakde-nya, Rijan (80) dan Alharhum Bude Sukar di Desa Krajan, bersama Pakde Rijan (80) dan almarhum Bude Sukar.

Baca Juga :  Terduga Teroris Berhasil Ditangkap di Subang, Warga Dengar Ledakan Seperti Bom

“Jadi bagaimanapun, Puji Kuswati warga kami, meski sudah lama berdomisili di Surabaya, tapi Pakde dan almarhum Budenya dini,” jelas Mujiono.

Saat ini, pihaknya masih menunggu keputusan sepupu Puji Kuswati dari Jakarta. “Jadi tidaknya dimakamkan di sini ya tinggal menunggu berita dari sepupunya itu,” katanya.

Menurut Kades Mujiono, Puji Kuswati diasuh Pakde Rijan dan Bude Sukar di Desa Krajan sejak usia 18 bulan sampai kuliah di Asper dan baru keluar dari kepala keluarga (KK) Pakde Rijan setelah menikah dengan Dita Oepriarto warga Surabaya itu.

“Yang benar Puji Kuswati diasuh Mbah Rijan sejak usia 18 bulan, saya lebih tua tiga tahun dengan almarhum Puji Kuswati. Jadi saya masih paham wajah dan perangainya, kalau disapa hanya senyum malu-malu,” ujar Mujiono.

Setelah lulus dari SMAN 2 Magetan, Puji Kuswati melanjutkan ke Akademi Perawat (Akper) RSI Surabaya, dan melanjutkan ke Strata dua di Australia.

“Puji Kuswati kabarnya pernah menjadi PNS di Kementerian Keuangan. Saya pribadi dan warga di Krajan Parang tidak mengira Puji Kuswati seberani melakukan itu, kemungkinan pengaruh dari suaminya,” tegasnya.

Puji Kuswati meninggal bersama kedua putrinya Fadhila dan Pamela Riskita saat pengeboman di GKI Jalan Diponegoro, Surabaya.

Sedang kedua putranya, Yusuf Fadil dan Firman Halim, meninggal karena pengeboman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, di Jalan Ngagel Madya, Surabaya dengan mengendarai sepeda motor.

Kemudian Dita Oepriarto, suami Puji Kuswati melakukan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno, Surabaya, dengan mengendarai mobil.

Ketiga bom yang diledakan ditiga tempat ibadah itu berselang 5 menit, Minggu (13/5-2018) sekitar pukul 07.30.

www.tribunnews.com