loading...


Para pengunjung saat melihat foto-foto kerusuhan Mei 1998 yang dipamerkan di Aula Monumen Pers Surakarta dari tanggal 11-18 Mei 2018. (foto-foto: aul)

SOLO-Memperingati 20 tahun peristiwa kelabu kerusuhan Mei 1998 lalu, digelar pameran foto karya pewarta foto senior Kota Solo, Sunaryo Haryo Bayu. Pameran foto berisi foto-foto saat perististiwa kerusuhan Mei 1998 di Solo tersebut berlangsung dari tanggal 11-18 Mei 2018.

Pameran foto yang berlangsung di Aula Monumen Pers Nasional itu dibuka Jumat (11/5/2018) malam. Selain pameran foto, juga digelar Sarasehan Kebhinekaan dengan mengambil tema “Merajut Kebhinekaan, Merawat Persaudaraan” dengan pembicara KH Dian Nafi (tokoh masyarakat), Sumartono Hadinoto (PMS) dan Brigjen Pol (Purn) Imam Suwangsa, mantan Kapolres Solo tahun 1998 saat kerusuhan berlangsung.

Kegiatan ini hasil kerja bareng dari Monumen Pers Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta, Pewarta Foto Surakarta dan sejumlah pihak lainnya yang turut mendukung.

Pameran ini menampilkan foto-foto karya Sunaryo Haryo Bayu alias Yoyok yang sehari-hari sebagai wartawan foto dari Harian Solopos. Ketika pecah kerusuhan Mei 1998 sebagai akibat dari tuntutan pergantian rezim orde baru, Yoyok saat itu baru bekerja setahun di Solopos.

Baca Juga :  Untuk Penguatan Kelembagaan dan SDM  UNS Jalin Kerjasama dengan LPTP

Pameran ini menghadirkan 85 foto tragedi Mei yang terjadi di Kota Solo. Berbagai foto mengenai kisah kerusuhan yang sempat terjadi di Kota Solo dan sekitarnya itu disajikan dalam bingkai pigura yang menghiasi Aula Monumen Pers Nasional di Jalan Gajah Mada Surakarta.

Yang menarik, pameran foto ini dikunjungi para mantan demonstran, mantan Kapolres Solo tahun 1998, mantan pasukan Dalmas Polres yang dulu mengamankan kerusuhan hingga anak-anak muda yang tidak memahami peristiwa Mei 1998 tersebut.

“Niatan menggelar pameran foto tentang peristiwa Mei 1998 ini didorong untuk menjadikan refleksi dari peristiwa itu. Memperlihatkan kepada kepada para generasi muda khususnya bahwa Kota Solo sempat menghadapi masa-masa mencekam. Dan jangan sampai hal itu terulang. Kebetulan saat diskusi dengan PWI Surakarta mendapat dukungan penuh maka jadilah pameran ini,” ungkap Yoyok.

Baca Juga :  Jelang Natal dan Tahun Baru 2019, Harga Sembako di Solo Stabil

Dengan pameran ini, lanjut Yoyok, ia ingin menyampaikan peristiwa demonstrasi, pembakaran dan juga penjarahan itu dalam bahasa visual kepada generasi penerus. “Bahwa kejadian tersebut merugikan semua pihak, ini biar menjadi pelajaran agar jangan sampai terulang,” terangnya.

Selama ini, tambah Yoyok, generasi muda terutama yang berusia di bawah 25 tahun hanya tahu melalui cerita saja. Sementara mereka tidak mengetahui fakta asli yang terjadi saat itu.

Yoyok juga berkisah bagaimana saat bekerja mengambil gambar dari peristiwa tanggal 14-15 Mei 1998 kala itu. Ia nyarus tidak tidur selama dua hari. Bahkan beragam ancaman diterimanya saat mengambil gambar. Baik dari aparat maupun dari pemilik toko. “Saya dikira mau menjarah. Saya sempat mau ditembak aparat, sempet juga mau dipukul sama pemilik toko,” paparnya.

Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul dalam sambutannya saat pembukaan menyatakan, apresiasi yang tinggi buat Sunaryo Haryo Bayu yang berusaha keras mewujudkan pameran ini. PWI yang diajak kerjasama dalam menyiapkan pameran ini, punya komitmen untuk mendorong para wartawan dalam menyajikan karya secara optimal.

Baca Juga :  UNISRI Adakan Sekolah Pasar Modal 2018

Salah seorang pengunjung, Bahtiar (58) mengatakan, saat kejadian tersebut dirinya juga sempat menyaksikan sendiri kerusuhan yang terjadi di Kota Solo. Ia juga melihat dari dekat proses aksi demonstrasi hingga pecahnya kerusuhan.

“Banyak toko terbakar, banyak korban berjatuhan. Orang berteriak-teriak bakar…bakar…Jangan sampai luka bangsa ini terulang. Mari kita belajar dari kejadian masa lalu tersebut,” katanya.(Marwantoro)

 

 

Loading...