loading...


Ilustrasi/Tribunnews

JOGJA – Kali ini, erupsi  yang terjadi di Gunung Merapi berbeda dengan sebelumnya. Letusan yang terjadi Kamis (24/5/2018) pagi hari  disertai dengan turunny awan pijar merah.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Teknologi (BPPTKG) menerangkan bahwa fenomena tersebut merupakan salah satu proses menuju letusan magmatis.

Namun demikian, tidak semua erupsi magmatis membuat warga khawatir.  BPPTKG menjelaskan letusan magmatis tidaklah selalu terjadi erupsi secara besar-besaran seperti yang terjadi pada tahun 2010 lalu.

Baca Juga :  Setelah Nabrak Scoopy dan Menjebol Tembok, Kondisi Sopir Pikap Ini Masih Kritis

“Jangan dibayangkan magmatis itu hanya seperti 2010 yang erupsinya besar,” jelas Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Kamis (24/5/2018).

Hanik memberikan contoh, beberapa erupsi magmatik yang pernah terjadi tidak semuanya selalu dalam skala letusan besar.

“Misalnya tahun 2006 itu juga magmatis, contoh lainnya Gunung Kelud 2007 yang hanya menimbulkan kubah lava atau merapi 2002 itu juga magmatis,” imbuhnya.

Baca Juga :  8 Tahun Kasus Pencurian 87 Koleksi Museum Sonobudoyo Jogja Masih Misteri

Selain itu, tanda-tanda yang diberikan oleh Gunung Merapi sejauh ini juga belum menunjukan proses magmatis akan segera terjadi.

“Bukan berarti kalau magmatis itu meletus besar, saat ini masih terjadi inflasi, dan belum deflasi, jika sudah terjadi deflasi itulah benar benar sudah memasuki proses magmatis,” pungkas Hanik. # Tribunnews

Loading...