Vaquita, Mamalia Laut Lucu Ini Tinggal Tersisa 12 Ekor di Dunia

    79
    BAGIKAN
    Ilustrasi/Tribunnews

    Beberapa spesies mamalia laut seperti lumba-lumba keberadaannya sudah tak banyak lagi dan terancam punah. Di antaranya adalah Vaquita.

    Menurut International Union for the Conservation of Nature (IUCN), pada beberapa tahun yang lalu jumlah vaquita hanya berkisar 30 ekor saja.

    Pada tahun ini, jumlah vaquita menurun hingga tersisa 12 ekor saja. Tak heran jika vaquita dikatakan sebagai mamalia laut yang paling terancam punah.

    Harapan agar vaquita dapat bangkit dari ancaman kepunahan terbilang kecil.
    12 ekor vaquita dianggap tidak cukup untuk menaikkan jumlah populasi hewan yang masuk dalam spesies lumba-lumba itu.

    Vaquita hanya dapat ditemui di teluk paling utara California. Dalam bahasa Spanyol, Vaquita berarti sapi kecil.

    Disebut demikian karena mamalia laut ini memiliki lingkaran hitam di sekitar mata dan mulutnya, seperti sapi.

    Vaquita adalah yang terkecil dalam keluarga porpoise (termasuk lumba-lumba dan paus), dengan badan dan kepala yang bulat. Panjangnya sekitar 5 kaki dan beratnya tak lebih dari 100 pounds.

    Vaquita berkomunikasi dan bernavigasi dengan sonar layaknya lumba-lumba. Mereka memakan ikan kecil dan cumi-cumi. Mereka hidup sendirian atau berkelompok sekitar 2 hingga 3 ekor.

    Ancaman terbesar yang membuat Vaquita terancam punah adalah aktivitas nelayan.
    Vaquita banyak ditemui ikut terjerat jaring nelayan bersama dengan hiu dan ikan pari.

    Terkadang vaquita juga tersangkut dalam jaring penangkap udang dan akhirnya mati.
    Karena hanya ada sedikit vaquita yang tersisa, mereka juga terancam punah karena perubahan iklim yang drastis.

    Perubahan iklim mempengaruhi suhu perairan dan makanan mereka.

    Jumlah vaquita yang sedikit membuat mereka susah untuk beradaptasi untuk berkembang biak.

    Banyak upaya yang sudah digalakan untuk menyelamatkan populasi mamalia laut lucu ini.
    Mulai dari penangkaran hingga pengendalian penggunaan jaring yang tepat.

    Namun perubahan iklim menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol. Sehingga populasi vaquita terus menurun.

    Pada tahun 2017, para ilmuwan akhirnya membangun penangkaran di tengah laut.
    Berharap vaquita dapat bereproduksi.

    Para ilmuwan memiliki harapan besar, meskipun mereka juga tidak tahu apakah cara tersebut akan berhasil. Pasalnya, Vaquita belum pernah hidup di penangkaran sebelumnya.

    Resiko gagal beradaptasi pun menjadi tantangan. Dua ekor vaquita, jantan dan betina, yang ditangkap pada Oktober 2017 memberikan tanda-tanda stress.

    Vaquita jantan menunjukan peningkatan detak jantung dan denyut nadi. Ia juga menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan, sehingga si jantan dilepaskan kembali.

    Sementara si betina lebih tenang saat ditangkap dan didistribusikan ke dalam kotak sterodoam. Namun saat hendak dilepaskan ke penangkaran, ia panik dan menabrak dinding.
    Vaquita betina itu lalu terlihat sempoyongan.

    Saat hendak dilepaskan kembali ke laut, ia panik dan beranang kembali ke jaringnya.
    Beberapa saat setelah itu, vaquita betina tersebut dinyatakan mati.

    Sulitnya menangkarkan Vaquita ini membuat populasinya terus menurun. Para ilmuwan khawatir vaquita akan mengalami nasib yang sama seperti badak putih.

    Vaquita adalah satu dari banyak spesies yang akhirnya dinyatakan punah karena tak bisa bertahan hidup berdampingan dengan manusia.

    Hewan-hewan tersebut bertahan ratusan hingga ribuan tahun sebelum manusia mulai kehilangan kepedulian untuk me0njaga lingkungan sekitarnya.

    Jika manusia terus saja tidak mau memulai untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan, maka bukan tak mungkin hewan dan tumbuhan lain perlahan juga akan mengalami kepunahan. # Tribunnews