Beranda Edukasi Akademia Wakil Rektor UMS Raih Gelar Doktor Geografi, Soroti Menurunnya Minat Kaum Muda...

Wakil Rektor UMS Raih Gelar Doktor Geografi, Soroti Menurunnya Minat Kaum Muda Garap Pertanian

63
BAGIKAN
Wakil Rektor V Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs Muhammad Musiyam MT (tengah) usai mengikuti ujian desertasi doktor di Universitas Negeri Malang (UNM), Senin (28/5/2018). Foto : dok UMS

 

MALANG-Wakil Rektor V Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Drs Muhammad Musiyam MT menyandang gelar doktor pendidikan geografi dari Universitas Negeri Malang.

Melalui desertasi Transformasi Pertanian pada Tiga Ekologi Pertanian di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Musiyam berhasil mempertahankan desertasinya di hadapan sembilan orang dewan penguji, Senin (28/3/2018) yang dipimpin oleh Prof Dr Ah Rofiudin MPd.

Dalam pemaparannya, Musiyam menjelaskan tentang proses transformasi pertanian yang terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia juga menyajikan beberapa contoh fakta menarik untuk dikaji lebih lanjut seputar transformasi pertanian.

“Pertama, terjadi pergeseran (tepatnya penciutan atau pengurangan) luas wilayah lahan pertanian akibat bertambahnya jumlah penduduk sekaligus tak terbendungnya arus industrialisasi ke wilayah perdesaan.” katanya.

Kedua, berkurang (menurun)nya minat kaum muda untuk bekerja di sektor pertanian di wilayah perdesaan. Kedua contoh ini, bersama variabel lain yang tak kalah menarik dari hasil kajian aktual lapangan.

Soal menurunnya kaum muda untuk bekerja di sektor pertanian ini sangat dirasakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di ketiga desa penelitian telah terjadi gejala penuaan struktur umur tenaga kerja sektor pertanian. Hal itu ditandai dengan tingginya proporsi tenaga kerja pertanian berusia tua dan rendahnya proporsi tenaga kerja berusia muda.

“Proses penuaan umur petani di wilayah ekologi pertanian sawah dataran rendah berlangsung lebih cepat dibanding dengan di wilayah pertanian campuran dataran peralihan dan di pertanian lahan kering dataran tinggi. Hal ini mengindikasikan rendahnya minat kaum muda peresaan untuk bekerja sebagai petani,” kata Musiyam di hadapan penguji.

Proporsi kaum muda yang berminat untuk bekerja sebagai petani sangat kecil. Mereka lebih berminat untuk bekerja sebagai profesional di kota karena alasan ingin mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan penghasilan yang pasti.

Rendahnya minat kaum muda perdesaan bekerja sebagai petani berkaitan dengan rendahnya penilaian mereka terhadap pekerjaan pertanian, rendahnya harapan orang tua terhadap pekerjaan anak sebagai petani, dan berlangsungnya proses penurunan ketrampilan (de-skilling) kaum muda perdesaan di bidang pertanian.

Dalam desertasinya, Musiyam juga meneliti tentang proporsi rumah tangga yang tak bertanah cukup besar, rata-rata kepemilikan lahan mereka cukup sempit.

Secara historis besarnya jumlah petani tak bertanah dan rata-rata pemilikan lahan yang sempit bukan hal baru di Klaten. Gejala tersebut sudah terjadi sejak tahun 1950-an.

“Hal ini menunjukkan bahwa penerapan revolusi hijau, khususnya pada pertanian sawah di Jawa, telah meningkatkan jumlah petani tidak bertanah, tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Karena proporsi rumah tangga tani tidak bertanah yang tinggi sudah terjadi sebelum program revolusi hijau digencarkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Halal bi Halal UMS Berlangsung Semarak, Diselingi Pengumuman Pencairan Gaji ke-13

Selama 10 tahun terakhir luas pemilikan lahan tidak mengalami perubahan berarti. Selain itu, pada rentang waktu tersebut intensitas jual-beli lahan relatif rendah.

Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pemilikan lahan tidak secara langsung berkaitan dengan penerapan program revolusi hijau.

Disimpulkan juga bahwa di Jawa institusi bagi hasil (penyakapan) menduduki posisi pertama dalam relasi pengusahaan lahan, setelah pemilik penggarap, hanya berlaku pada untuk wilayah pertanian sawah dataran rendah dan tidak berlaku untuk wilayah pertanian lahan kering dataran tinggi.

“Relasi sakap tidak hanya diterapkan oleh petani berlahan luas, tetapi juga oleh petani berlahan sempit. Selain itu, posisi tawar petani penyakap lebih kuat dibanding dengan pemilik lahan pertanian, ditandai dengan pergeseran dari sistem mrapat ke sistem maro dan semakin kuatnya posisi tawar petani penyakap terhadap petani pemilik lahan,” ujarnya.

Penelitian ini menemukan bahwa sejak awal tahun 1970-an jumlah rumah tangga tani penyakap telah meningkat sekitar tiga kali lipat, sedangkan jumlah rumah tangga tani yang menggarap lahannya sendiri mengalami penurunan sekitar 2,5 kali lipat.

Penelitian ini juga menyoroti penggunaaan alat teknologi pertanian yang dinilai sebagai kebutuhan realistis untuk menggantikan tenag manusia dan hewan mengingat makin berkurangnya tenaga petani.

Hanya saja kelangkaan tenaga kerja pertanian belum menjadi masalah yang berat. Karena itulah penggunaan traktor tangan sebagai alat untuk mengolah tanah menggantikan tenaga kerja manusia dan hewan di sisi lain juga belum menjadi kebutuhan mendesak.

“Desertasi ini cukup bagus dan detail. Memberi warna baru bagi disiplin ilmu geografi,” ungkap Dr Singgih Susilo MS, salah seorang penguji. (Triawati Purwanto)