loading...


Wawan Indrawan (kiri) dan Imam Taufik (tengah) saat membentangkan spanduk ucapan HUT Sragen ke 272 dari puncak Gunung Semeru. Foto/Istimewa

SRAGEN- Ada banyak cara untuk memanjatkan doa dan menunjukkan kecintaan. Seperti yang dilakukan dua staff Setda Sragen,  Wawan Indrawan dan Imam Taufik.

Dua PNS muda di lingkungan Setda itu punya cara tersendiri untuk memanjatkan doa di ulang tahun Kabupaten Sragen yang ke-272 pada 27 Mei lalu.

Ya, menyelaraskan hobi mereka yang suka petualangan,  keduanya rela mendaki terjalnya medan menuju puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa,  yakni Gunung Semeru hanya untuk mendoakan HUT Sragen tahun ini.

Kepada Joglosemar,  Wawan menuturkan HUT Sragen 2018 ini merupakan tahun kedelapan baginya mengabdi sebagai PNS di Sragen. Pemuda kelahiran Indramayu,  Jawa Barat itu mengaku sangat mencintai Sragen meski terlahir bukan di Sragen.

Karenanya di hari kelahiran Kabupaten Sragen, kecintaaanya itu diwujudkan dengan rela mendaki Gunung Semeru yang memiliki puncak tertinggi di Tanah Jawa dengan ketinggian 3.676 MDPL (meter di atas permukaan laut).

Baca Juga :  Lembaga LS2 Beber Hasil Kajian Kasus Kasda Sragen. Ungkap Banyak Nama Penerima Dana Tak Diproses, Sebut Penetapan Tersangka Agus Upaya Kriminalisasi

“Iya,  kemarin kami melakukan pendakian. Berangkat tanggaL 27 April 2018 dan pulang 2 Mei 2018. Khusus untuk memeringati HUT Sragen. Saya bersama tiga sahabat saya. Yaitu Imam Taufik yang juga kolega saya di Bagian Pemerintahan Setda Sragen, Soni Supriyanto PNS Kabupaten Blora dan Priyo Utomo Guru MTs N Sragen yang merupakan pendiri komunitas pecinta alam Sragen Adventure of Dzikir atau SADz, ” papar Wawan,  Sabtu (2/6/2018).

Foto/istimewa

Wawan mengisahkan perjalanan penuh tantangan itu mereka tempuh selama 4 hari (pergi-pulang) memanfaatkan hari libur tanggam 27 April-2 Mei. Dalam perjalanan sempat mengalami banyak kejadian ekstrim salah satunya diterpa badai saat berada di Pos Kalimati.

Gunung Semeru sendiri merupakan salah satu Gunung Api yang paling aktif dengan kawahnya yang bernama Jonggring Saloko dan gunung berapi tertinggi ke tiga setelah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani.

Wawan mengaku sempat putus asa saat berada di tanjakan cinta. Dia menahan rasa dingin udara Tanukumbolo dan kelelahan menggendong tas yang besar dan hampir pingsan.

Baca Juga :  Tak Tahan Sering Dipersulit dan Disakiti Dokter Galak, Sejumlah Pasien BPJS Miskin di Puskesmas Tanon Sragen Rame-Rame Berontak 

“Saya sempat melihat Wawan hampir putus asa dan sudah pucat. Dia berkali-kali teriak ajak pulang tapi Alhamdulilah teman-teman dan saya berusaha menenangkan dan menguatkannya. Setelah semuanya membaik tim melanjutkan perjalanan untuk mencapai tujuan, ” timpal Imam Taufik.

Perjalanan penuh tantangan itu akhirnya mengantarkan mereka sampai di puncak Semeru. Rasa lelah dan peluh mereka terobati ketika menginjakan kaki di puncaknya para dewa dan membentangkan spanduk ucapan hari Jadi Sragen di atas Semeru.

Dari puncak itulah,  mereka berdoa dan berharap agar Sragen semakin maju dan sejahtera.

Perihal pengalaman ekstrimnya itu,  Wawan mengakui memang merasakan ada hikmah spiritual dalam perjalanan menapaki Puncak Mahameru. Menurutnya layaknya legenda puncak nan abadi para dewa, yang memberikan keteladanan akan fungsi sebuah untuk tim saling menjaga, saling mendukung dan saling melengkapi. Hal itu dapat diaplikasikan di dunia kerja.

Baca Juga :  Dana BKK Cor Jalan Diduga Bocor Jutaan Rupiah, Warga Sepat Masaran Demo Bawa Spanduk Tengkorak 

“Jika bekerja tidak mematuhi rambu-rambu maka akan berurusan dengan hukum, begitu juga dalam mendaki gunung jika tidak mematuhi rambu-rambu dan etika maka bisa tersesat dan mati di Gunung. Jika bekerja mulai jenuh maka ingat diluar sana banyak masyarakat dan keluarga yang menanti karya indah dari pekerjaan kita untuk Bumi Sukowati, ” tuturnya. Wardoyo

 

Loading...