JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

127 SD di Kota Solo Kekurangan Siswa

pexels
pexels

SOLO- Kendati tahun ajaran baru 2018/2019 telah dimulai, namun sebanyak 127 Sekolah Dasar (SD) di Kota Solo masih kekurangan siswa. Hal itu berdasarkan data Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta sesuai hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018.

Menurut Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Surakarta, Wahyono, pihaknya telah menerima laporan tentang jumlah siswa baru  masing-masing sekolah. Dan dari 254 SD yang ada di Kota Solo, 127 diantaranya masih kekurangan siswa.

“Terkait hal itu, bagi siswa SD warga Kota Solo yang belum mendapatkan Sekolah dapat mengisi kekosongan kursi pada Sekolah-sekolah yang masih kekurangan siswa. Dalam satu rombongan belajar (rombel) jumlah siswa ideal, minimal 20 dan maksimal 28, namun saat ini ada sekolah yang hanya mendapatkan enam siswa baru, bahkan ada Sekolah yang sama sekali tidak mendapat siswa dalam PPDB tahun 2018, sedangkan data sementara menyebutkan ada 127 SD yang siswanya kurang dari 20 siswa,” ungkapnya, Selasa (24/7/2018).

Baca Juga :  Front Pemuda Madura Ajak Pemuda Bangkit Di Tengah Pandemi Adopsi Semangat Pertamina

Fenomena tersebut dapat menjadi bukti bahwa belum semua masyarakat termasuk orang tua siswa benar-benar memahami tentang sistem zonasi yang telah diterapkan pemerintah. Bahkan masih ada orangtua yang tidak mau mendaftarkan putra putri ke sekolah dalam zonasinya.

Baca Juga :  Terhasut Ajakan 'Hitamkan Solo' 6 Remaja Anggota PSHT Asal Ngawi dan Karanganyar Diamankan di Kawasan Manahan

“Hal ini sulit diperhitungkan, dan ini yang sulit juga. Orangtua tidak mendaftarkan anaknya ke sekolah karena merasa sistem online masih rumit. Akhirnya tidak ikut PPDB online, dan ini yang tidak bisa terlacak,” papar Wahyono.

Wahyono meminta kepada seluruh masyarakat untuk lebih memahami tentang sistem zonasi mulai sekarang.

“Masyarakat harus mulai mengikuti sistem zonasi mulai sekarang, sehingga di tahun tahun mendatang tidak ada lagi masalah termasuk tidak ada lagi istilah sekolah favorit, karena selama ini kualitas sebuah sekolah hanya merupakan pandangan dari masyarakat,” tukasnya. Triawati PP