Beranda Umum Nasional Wouw, Dulu Getek Bambu Sekarang Kapal Bambu, Ini Wujudnya

Wouw, Dulu Getek Bambu Sekarang Kapal Bambu, Ini Wujudnya

64
BAGIKAN

Tribunnews

Masih ingat cerita Jaka Tingkir yang menggunakan getek dari bambu untuk menyeberangi sungai? Nah, ternyata materi bambu ini di jaman sekarang masih dapat digunakan untuk membuat kapal yang lebih modern ketimbang getek.

Bahkan, materiala bambu diklaim memiliki kekuatan yang lebih ketimbang kayu jati. Hal itu diungkapkan oleh inventor Beito Deling 001, Heri Supomo.  Material bambu laminasi untuk kapal diklaim memiliki kekuatan 1,5 kali lebih kuat dibandingkan kayu Jati kelas dua yang biasa digunakan untuk pembuatan kapal.

Ia mengungkapkan, kapal bambu laminasi yang dibuatnya dinamakan Baito Deling yang berasal dari Bahasa Jawa. Deling berarti bambu, Baito adalah perahu. Sedangkan angka 001 di belakangnya, bermakna bahwa perahu itu adalah prototipe yang pertama.

” Saya sudah uji long activity bambu laminasi di air laut, maka bambu akan semakin kuat. Makanya dia sangat cocok digunakan kapal,”urainya usai peluncuuran kapal di Kenjeran, Senin (2/7/2018).

Menurut Heri, kontruksi bambu bisa diterima untuk bahan kapal. Pasalnya, semakin kena air, apalagi air asin, bambu akan semakin kuat. Tapi kalau terbuka di udara akan semakin rapuh. Makanya bambu sangat cocok dipakai untuk kapal.

Selain memiliki kekuatan 1,5 kali, bahan bambu lebih ekonomis 60 persen dari kayu jati yang digunakan saat ini.

“Kapal ini sendiri berukuran panjang 6 meter, lebar 2 meter, berat 750 kilogram, dan dapat memuat ikan 1,5 ton,” ujarnya.

“Saya sudah menguji laminasi bambu di laut dan pengetesan. Bambu mampu 25 tahun,” ucap Heri yang mulai meneliti tahun 2012 sampai sekarang ini.

Baca Juga :  Penerimaan CPNS 2018 Ini Diwajibkan Selfie, Ini Alasannya

Selain membuat kapal ikan, nantinya Heri akan mengembangkan dengan membuat kapal pariwisata. Heri mengungkapkan, penggunaan bambu sebagai bahan pembuatan kapal dapat menjadi solusi untuk kelangkaan kayu karena adanya penebangan liar tanpa penanaman kembali.

Kelangkaan ini membuat kayu menjadi mahal dan sulit dicari yang pada akhirnya membuat proses pembuatan kapal terkendala dan harga produksi kapal menjadi tak terjangkau.

“Kendala ini membuat kelangsungan hidup Industri-industri Kecil Menengah (IKM) galangan kapal rakyat menjadi tidak tentu.”

“Banyak para IKM galangan kapal rakyat ini yang gulung tikar dan beralih profesi karena kelangkaan bahan kayu dan harganya yang cukup mahal,” urainya.

 

Sebagian IKM lainnya beralih ke bahan Fiberglass Reinforce Plastic (FRP). Namun material ini kurang berwawasan lingkungan dan tidak eco-green serta cukup sulit terurai di alam.

“Bambu laminasi merupakan sebuah terobosan untuk dapat menanggulangi permasalahan pada produksi kapal kayu.”

“Saat ini bambu laminasi terbatas hanya digunakan sebagai bahan untuk mebel dan konstruksi bangunan sipil saja, namun belum ada yang memanfaatkan bambu laminasi sebagai material utama pembuat kapal,”urainya.

www.tribunnews.com