loading...
Loading...
Sosialisasi Cinta rupiah dari BI Solo.

WONOGIRI-Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta menyambangi para Prajurit dan PNS Kodim 0728/Wonogiri untuk menyosialisasikan cinta mata uang rupiah. Sosialisasi mengusung tema Cinta Rupiah, Bela Negara Tanpa Senjata.

Hadir dalam sosialisasi Dandim 0728/Wonogiri Letkol Inf M. Heri Amrulloh S.Sos.MH yang sedang melaksanakan dinas diwakili Pasipers Kapten Inf Prahwoto, para perwira staf, danramil dan para anggota baik militer maupun PNS.

Tim sosialisasi Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta terdiri dari Naufal Novaliles Askha dan Widi Asmoro selaku Staf/Kasir. Sosialisasi ini fokus kepada cara memperlakukan uang dengan baik dan benar sebagai wujud mencintai setiap lembar rupiah yang dipegang. Dalam sosialisasi ini pihak BI juga memberikan sosialisasi mengenai kebanksentralan kepada para peserta. Karena ditengarai saat ini masyarakat dan TNI masih banyak yang belum tahu apa tugas BI sebagai bank sentral dan apa tugas perbankan.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Menentukan Jajanan yang Sehat Bagi Anak Sekolah Itu?Yuk Disimak Bersama

“Sekarang giliran sosialisasi di tingkat Kodim-kodim setelah sebelumnya kami sudah menyambangi Korem, kami sosialisasikan bagaimana mengenal rupiah. Ini ibarat bela negara tanpa senjata,” kata Naufal Novaliles Askha

Dia mengatakan selama ini TNI merupakan mitra strategis Bank Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai bank sentral.

Pada sosialisasi tersebut, tim memaparkan dan mengedukasi para peserta bagaimana cara memperlakukan uang dengan benar. Salah satunya dengan memberikan pemahaman lima jangan. Yaitu jangan disteples karena uang yang berlubang dianggap tidak layak edar. Selanjutnya jangan dicoret, jangan dilipat, jangan diremas, dan jangan dibasahi.

Baca Juga :  Ini Jumlah Lahan Pertanian yang Terdampak Kekeringan di Wonogiri, Ternyata Mencapai 32.000 Hektare

Ditambahkan oleh Widi Asmoro, bahwa BI ke depan juga berencana akan melibatkan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) terkait sosialisasi cinta rupiah ini untuk memberikan pemahaman mengenai 3D (dilihat, diraba, diterawang) kepada masyarakat di tingkat desa. Agar masyarakat tidak menjadi korban adanya peredaran uang palsu.

Pasipers Kapten Inf Prahwoto menambahkan, Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang berada wilayah operasionalnya sampai di pelososk-pelosok wilayah bisa menjadi ujung tombak sosialisasi identifikasi rupiah kepada masyarakat secara mandiri. Hal ini juga merupakan upaya membina ketahanan ekonomi wilayah. Aris Arianto

Loading...