loading...
Loading...
AKP Juli Monasoni. Foto/Wardoyo

SRAGEN-  Polres Sragen menyatakan tidak akan gegabah untuk melakukan proses hukum terhadap dugaan pembuangan limbah perusahaan yang memicu pencemaran di Sungai Bengawan Solo. Selain menunggu langkah stake holder terkait yang lebih berwenang, pengusutan dan proses hukum terhadap pihak pembuang limbah membutuhkan proses dan penanganan khusus.

Hal itu disampaikan Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Juli Monasoni. Mewakili Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman mengatakan Polres memang sudah melakukan pengecekan dan pengambilan sampel air bersama tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen di Bengawan Solo bawah jembatan Sari, Plupuh, pekan lalu. Menurutnya, langkah itu baru sebatas sebagai respon cepat menyikapi keluhan masyarakat soal kondisi pencemaran Bengawan Solo oleh limbah yang viral di media sosial.

AKP Juli juga menyampaikan hasil pengecekan saat itu memang mendapatu air sungai tersebut berwarna hitam dan berbau. Terkait temuan itu,  DLH menyatakan akan membuat surat tentang langkah ke depan termasuk berkoordinasi dengan DLH provinsi.

Baca Juga :  Ratusan Warga Padati Lokasi Kecelakaan Truk Terjun ke Jurang di Tangen Sragen. Sopir Tewas Mengenaskan 

“Jadi terkait langkah kami bersama DLH cek ke lapangan kemarin itu baru sebatas quick respons atas keluhan masyarakat. Tapi kalau dari sisi penegakan hukum belum bisa menyimpulkan. Karena itu ranahnya masih di DLH,” terangnya.

Kasat Reskrim menjelaskan untuk penegakan hukum juga diperlukan penanganan khusus dan proses yang panjang.

Menurutnya untuk menindak secara hukum juga butuh upaya dan proses yang komprehensif. Soal informasi warga bahwa pabrik pembuang limbah ditengarai ada di Palur, Karanganyar, Kasat juga belum berani berkomentar.

“Kita belum sampai ke sana, ” tukasnya.

Ia menyampaikan dari hasil keterangan warga, kondisi air bercampur limbah itu memang sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Keterangan warga, bau menyengat itu akan makin parah pada tiga hari di akhir pekan yakni Kamis, Jumat, Sabtu.

Baca Juga :  Disentil Cakupan BPJS Paling Rendah se-Solo Raya, Bupati Sragen: Yo Ben! 

“Kami tetap akan melibatkan stake holder dan instansi terkait untuk mengembangkan informasi dari warga,” tandasnya.

Sementara dari informasi di lapangan,  warga meyakini bahwa sumber pemicu pencemaran ada di wilayah hulu di atas Sragen. Bahkan warga menyebut oknum pembuang limbah diyakini adalah pabrik di wilayah Palur Karanganyar.

“Sumbernya dari buangan limbah pabrik di wilayah Palur. Mungkin tidak akan terlihat, bisa jadi pakai pipa yang ditanam di bawah atau pipa siluman. Sebenarnya kalau mau serius pasti bisa dilacak dan diusut darimana pembuangnya, ” ujar Sugi, warga dekat bantaran wilayah Karanganyar, Plupuh.

Kepala DLH Sragen, Nugroho Eko Prabowo mengatakan belum akan mengusut siapa pihak yang mencemari Sungai Bengawan Solo.

“Kami tidak akan mengusut atau menemukan siapa perusahaan yang membuang limbah ke Bengawan Solo. Karena kalau itu mau dicari sumbernya sudah. Nanti kalau ngaran-ngarani nggak ada buktinya, malah ribet, ” paparnya Senin (30/7/2018).

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Motor VS Mobil Misterius di Ring Road Sragen. Pemotor Muda Ditemukan Tergeletak Tewas di Tepi Jalan

Menurut Nugroho, masalah limbah yang membuat Bengawan Solo dari Grompol ke bawah berwarna hitam dan berbau, sebenarnya siklus rutin yang sudah terjadi tahunan dan terus menerus. Ia juga menyebut sumber pencemaran limbah itu bisa jadi dari banyak pihak baik perusahaan maupun limbah domestik atau buangan rumah tangga.

Karenanya,  pihaknya lebih memilih untuk flashing sebagai solusinya. Menurutnya flashing pun tak akan serta merta bisa merubah air Bengawan Solo menjadi bebas limbah atau jernih. Akan tetapi flashing setidaknya bisa mengurangi dampak bau dan warnanya yang saat ini hitam memekat.

“Tapi untuk flashing pun juga ada ketentuannya dan enggak bisa serta merta. Apalagi tingkat sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur juga tinggi, ” terangnya. Wardoyo

Loading...