loading...
Seorang petani melihat perkembangan tanaman jagungnya di bekas genangan WGM wilayah Kecamatan Wonogiri

WONOGIRI–Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri ketika kemarau datang, dipastikan mengalami penyurutan. Kondisi ini justru dimanfaatkan warga sekitar WGM.

Bekas genangan air waduk dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Ada yang menanami padi, palawija, ada pula bawang merah.

Bekas genangan tersebar di sejumlah kecamatan. Seperti Kecamatan Baturetno, Nguntoronadi dan sebagian Giriwoyo di wilayah timur dan tenggara WGM, kemudian wilayah barat ada Kecamatan Wuryantoro, Eromoko dan sebagian Pracimantoro dan Wonogiri. Hal ini sudah mereka lakukan secara turun temurun.

“Sejak air surut, belum sampai kering, warga kami sudah bersiap-siap bercocok tanam. Biasanya padi dan palawija,” ujar warga Kecamatan Baturetno, Bambang, Selasa (7/8/2018).

Biasanya kalau musim seperti ini, sebut dia, warga menanaminya dengan palawija sepeti jagung. Sebagai tanaman sela, dipilih cabai. Jika genangan berada masih dekat dengan air warga berani menanam padi.

Baca Juga :  Puluhan Pedagang dan Jukir Ikuti Rapid Test di Pasar Ngadirojo Wonogiri, Yang Reaktif Bakal Dihubungi Langsung Oleh Tim

Seorang petani asal Desa Minggarharjo Kecamatan Eromoko, Sumitro, mengungkapkan, saat kemarau memanfaatkan lahan genangan untuk menanam jagung. Menurutnya tanah bekas genangan waduk cukup subur lantaran endapan sedimentasi membawa humus. Untuk pengairan, dia memilih membuat sumur pantek.

Alternatif lain, tanaman bawang merah juga dinilai cocok ditanam di tanah tersebut.

“Banyak sudah panen bahkan menikmati hasilnya, malah di kecamatan ini belum lama ini diberi bantuan berupa demplot bawang merah dari pemkab,” tandas dia.

Sunyoto, petani bawang merah mengakui lahan WGM ternyata cocok ditanami bawang merah. Hasil panen mencapai kisaran Rp200 juta per hektare, dengan keuntungan bersih antara Rp80-Rp120 juta.

Baca Juga :  Menuju New Normal, Tim Harimau Polres Wonogiri Bakal Giatkan Patroli Dialogis

“Biaya pengolahan lahan satu hektare total sekitar Rp80 juta, itu sudah termasuk untuk pembelian benih Rp40 ribu per kilogram, pupuk, obat, (upah) tenaga, dan lainnya,” papar dia.

Dia menambahkan, asal telaten, petani bisa menikmati untung besar dengan menanam bawang merah. Hama maupun penyakit bawang merah juga tidak sebanyak tanaman pertanian lainnya.

Dari segi kualitas bawang merah lokal Wonogiri tidak kalah dengan Brebes. Dari segi pemasaran paska panen tidak ada masalah karena sudah banyak pihak yang siap menerimanya. Aris Arianto