loading...

Dadang Ari Murtono (pegang mic) saat bicara dalam bedah novel Samaran karyanya di Rumah Dongeng Bharata, Karanganyar, Selasa (11/9/2018)

KARANGANYAR – Novel Samaran karangan Dadang Ari Murtono dibedah  di rumah dongeng Bharata, Karanganyar, Selasa (11/9/2018) sore.  Selain penulis yang kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, bedah buku tersebut menghadirkan dua pembicara, yakni Panji Sukma, pengarang novel Astungkara dan Alfian Hasan, warga asli Ponorogo yang merupakan pegiat budaya di Karanganyar.

Acara tersebut dimoderatori oleh sastrawan yang lagi naik daun, Yuditeha. Mengawali acara, Yuditeha yang mahir  musikalisasi puisi  itu menembangkan salah satu puisi karya Dadang Ari Murtono yang terhimpun dalam antologi puisi Ludruk Kedua dalam iringan gitar. Di sepanjang acara juga diselingi dengan pembacaan nukilan novel Samaran, cerpen-cerpen maupun puisi karya penulis bertato di tangannya tersebut.

Sastrawan Yuditeha tengah menyanyikan puisi karya Dadang Ari Murtono sebelum acara bedah novel Samaran, Selasa (11/9/2018)

Dadang mengawali paparannya dengan mempertanyakan antara berkah atau kutukan dilahirkan di Mojokerto, Jawa Timur, kota yang menjadi bekas kebesaran kerajaan Majapahit. Dia mengisahkan, setiap kali pergi keluar daerah, dia selalu ditanya orang mengenai Majapahit.

“Padahal saya merasa tak ada sangkut pautnya dengan Majapahit dan tidak tahu  sejarahnya,” ujarnya.

Namun karena itulah, ia justru terinspirasi untuk membuat puisi yang berlatar belakang tradisi masa lalu di daerahnya. Untuk membuat puisi tersebut, ia mengaku melakukan riset selama dua tahun. Salah satu yang dipilihnya adalah tradisi Ludruk.

“Sisa data hasil riset itu ternyata tidak semuanya terpakai dalam puisi. Jadi sayang kalau terbuang, makanya saya pakai untuk menyusun novel ini,” ujarnya.

Loading...

Novel Samaran adalah novel pertama Dadang, yang diikutkan dalam sayembara penulisan novel oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  2018. Novel ini masuk menjadi salah satu dari 20 besar novel terpilih.

Novel Samaran menceritakan sebuah  kampung yang bernuansa mistis di antara batas ada dan tiada di wilayah Mojokerto.

Sementara itu, menjawab pertanyaan audiens, Dadang mengatakan, novel tersebut lahir dengan riset yang menurutnya mendalam. Dia berhari-hari harus tinggal dan mengikuti sebuah grup ludruk di Mojokerto, tinggal dan tidur bersama dengan “kaum banci”.

Sedangkan menjawab audiens lainnya, ia mengakui gaya pemaparan dalam novel tersebut memang terpengaruh oleh novel 100 Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marques. Dadang mengaku mengidolakan novel-novel  dan cerpen dari Amerika Latin, karena memiliki kecenderungan berkisan dengan cepat.

“Kebanyakan novel lainnya, bergerak dengan lambat, sehingga membosankan. Tapi novel Amerika Latin tidak, dan tidak membosankan,” ujarnya.  #suhamdani

Loading...