loading...

Pompa hidran untuk mengatasi permasalahan air di lahan kering dan berbukit

WONOGIRI-Lahan pertanian yang berada di daerah kering dan berbukit, tentu dihadapkan dengan permasalahan pengairan. Pasalnya air sangat sulit dinaikkan ke atas bukit.

Upaya yang dilakukan biasanya menggunakan mesin pompa air untuk menaikkan air ke bukit. Tapi dipastikan upaya ini bakal menghabiskan biaya cukup tinggi, khususnya di sisi bahan bakar.

Namun kini ada solusi murah dan mudah terkait hal itu. Dengan berbekal kreatifitas memanfaatkan barang usang, serta menemukan kembali teknologi lama yang telah terkubur, Lasiman, warga Wonogiri berhasil menciptakan pompa air hidran untuk daerah kering dan berbukit. Hasil karyanya ini menjadi juara satu nasional dan dijadikan percontohan untuk diterapkan di daerah lainnya.

“Pompa air hidran ini nanti ditempatkan di bendungan. Kalau kemarau bisa untuk mengairi lahan di bukit. Ini sudah juara nasional tahun 2015, Mas,” ujar dia, Minggu (2/9/2018).

Ya, dalam lomba alat-alat teknologi tepat guna di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) 2015, pompa hidran Lasiman meraih juara pertama. Sehingga layak menjadi percontohan untuk diterapkan bagi daerah lain.

Pompa hidran buatannya memang difungsikan menyuplai kebutuhan air pada kondisi lahan berbukit. Dimana sangat sulit dan membutuhkan biaya tinggi saat harus mengangkat air menggunakan mesin pompa. Pompa buatannya, diklaim hemat energi, dan biaya. Sebab penggeraknya adalah air bukan bahan bakar.

Loading...

Secara fisik, pompa berbentuk huruf L. Ada dua lubang pada ujung-ujungnya. Dimana lubang di ujung horizontal lebih besar, sebab menjadi tempat masuk air.

Air setelah masuk lubang, secara otomatis menggerakkan klep pompa. Gerakan klep ini secara terus-menerus memompa air untuk naik menuju lubang vertikal yang lebih kecil. Selanjutnya air siap disalurkan kemana saja.

“Ketinggian bukit sekitar 30-an meter mudah dicapai,” beber dia.

Warga Dusun Kalibang Desa Wonokarto, Kecamatan Wonogiri ini mengaku membuat sendiri pompa hidran. Dia memanfaatkan barang-barang usang. Badan pompa dari besi dibuat dari bekas pipa paralon besar, demikian pula dengan baut-bautnya. Sementara untuk klep atau katup pompa dibuat dari ban mobil bekas. Bukan tanpa sebab dia memilih ban bekas. Pasalnya mudah didapat dan sangat awet. Apalagi disebutnya, tidak ada pabrik klep yang membuatnya, kecuali memesan.

Lasiman mengaku bukan dia yang kali pertama menemukan teknologi hidran itu. Teknologi tersebut sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Penggunaannya nyaris sama, mengairi lahan perbukitan.

“Sejarahnya dulu di Temanggung ada bangunan pompa hidran Belanda. Tapi kemudian terkubur dan tidak dimanfaatkan sangat lama,” cerita dia.

Bersama sejumlah rekan, dengan ijin pemerintah, dia kemudian menggali lagi bangunan pompa itu. Secara bersama-sama, dia mempreteli bagian demi bagian pompa untuk dipelajari. Selanjutnya dicoba dibangun ulang, dan ternyata berhasil.

Kali pertama dia membuat pompa hidran tahun 2013. Beberapa pihak sudah memesan kepadanya, termasuk dari Korem 074 Warastratama. Dia mengatakan masih membuka kesempatan bagi pihak yang ingin memesan pompa selanjutnya. Harganya?

“Ya, Rp15 jutalah, termasuk servis,” kata dia. Aris Arianto

Loading...