JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Sebagian Besar Perempuan Singapura Emoh Menikah

Ilustrasi/tribunnews

SINGAPURA – Sebagian besar kaum pperempuan di Singapura ternyata emoh terikat dalam tali perkawinan. Mereka lebih suka bebas leluasa. Hal itu ditunjukkan oleh penelitian ini.

Hasil penelitian terbaru menunjukkan perempuan di Singapura dari seluruh kategori usia memilih untuk tetap melajang dibandingkan 10 tahun lalu.

Laporan tahunan Population in Brief yang dirilis pada Kamis (27/9/2018) memperlihatkan, peningkatan tertinggi perempuan lajang berada di rentang usia 25 hingga 29 tahun.

Sebanyak 68,1 persen perempuan Singapura memilih lajang pada tahun lalu, meningkat 7,2 persen dibanding 2007.

Straits Times mencatat, alasan utama perempuan untuk tetap melajang adalah mereka tak lagi memerlukan adanya pernikahan untuk bisa bertahan secara ekonomi.

Baca Juga :  Media Asing Soroti Penanganan Covid-19 di Indonesia, Sebut Menkes Terawan sebagai Orang Paling Bertanggung Jawab atas Krisis Akibat Pandemi yang Dialami Indonesia

“Seperti 100 negara lainnya di dunia, perempuan Singapura lebih banyak menempuh pendidikan tinggi ketimbang pria. Menikah tidak lagi kebutuhan,” ucap Profesor Jean Yeung, direktur Pusat Penelitian Keluarga dan Populasi Singapura.

Faktor lain yang berpengaruh seperti banyak perempuan tidak akan mendapat promosi jabatan atau posisi tinggi jika menjadi ibu dan tingginya biaya pernikahan.

Asia One mengabarkan, perempuan yang lebih tua dan memilih tidak menikah di rentang usia 30 sampai 34 tahun meningkat 3,9 persen . Sementara, perempuan lajang usia 40-44 tahun naik 3,8 persen.

Di sisi lain, tingkat kelahiran total di Singapura merosot ke level terendah dalam 7 tahun menjadi 1,16 pada tahun lalu. Agar populasi dapat tergantikan tanpa adanya imigrasi, tingkat kelahiran bayi di “The Lion City” harus mencapai 2,1 secara rata-rata.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Arab Saudi Buka Kembali Layanan Umroh secara Bertahap. Jemaah Luar Negeri Diizinkan Datang Mulai 1 November 2020

“Tingkat lajang merupakan alasan paling penting tingkat kelahiran di Singapura yang rendah,” kata Yeung.

Selain itu, kelompok usia 19 hingga 29 tahun yang memasuki usia subur tertinggi tapi belum memiliki anak juga menyebabkan tingkat kelahiran yang makin sedikit.

Dengan meningkatnya harapan hidup dan tingkat kesuburan yang lebih rendah, proporsi populasi penduduk berusia 65 tahun ke atas makin meningkat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan satu dekade lalu. #tribunnews