loading...
Loading...
Suasana sidang ke-2 kasus Mercy Maut, Kamis (8/11/2018). Foto: Triawati

SOLO– Sidang kasus pembunuhan Mercy maut dengan terdakwa Iwan Adranacus (40) kembali bergulir Selasa (27/11/2018). JPU menghadirkan psikolog dalam sidang dengan agenda pemeriksaan saksi ahli tersebut.

Sidang menghadirkan AKP Akhmad Dartono, Kasubbag Psikolgi Polda Jateng memeriksa kejiwaan terdakwa pasca kejadaan naas pada Rabu (22/11/2018). Menurut Akhmad, segala sesuatu terjadi dalam konteks permasalahan kejadian tersebut sebenarnya sangat mungkin dialami semua orang yaitu perilaku yang ditampilkan berbeda satu orang dengan yang lain.

“Dalam kaitan permasalahan ini bersifat situasional, murni situasional dijalan, banyak sering terjadi dijalanan,  kendaraan saling serempet, saling kejar, saling marah, cekcok biasa terjadi dijalanan. hanya yang membedakan adaptasi yang muncul setelah itu, ini dipengaruhi banyak hal dari karakteristik individu masing masing berbeda, ada yang sabar, temperamental, itu akan mempengaruhi secara nyata,” urainya.

Baca Juga :  Siap-siap, Pocari Sweat Run 2020 Akan Digelar di Kota Solo, Target Peserta 20.000

Dari analisa yang degabungkan, lanjut Akhmad, selaku ahli dapat menarik kesimpulan bahwa ada karakteristik terdakwa yang mempunyai pengaruh besar terhadap munculnya perilaku permasalahan itu salah satunya terdakwa dalam mempunyai karakteristik reaksional dalam menghadapi situasi.

Baca Juga :  Gubernur Ganjar Bakal Lelang 11 Jabatan Tinggi di Pemprov Jateng. Tiga Jabatan Ada di Kota Solo, Simak Jadwal Pendaftarannya! 

“Karena sifat reaktif dalam mengambil keputusan perilaku kurang pertimbangan secara matang terhadap apa yang dilakukan dan akibat yang muncul disisi lain bahwa subyek mempunyai karakteristik yang individu sebenarnya kurang mampu adaptasi terhadap impuls, terhadap sesuatu menyerang reaktif,” imbuh Akhmad.

Setelah keterangan saksi dilanjutkan dengan sidang gugatan perdata terkait permohonan ganti rugi akibat kejadian ini dari pihak keluarga korban. Ketua Majelis Hakim, Krosbin Lumbangaul menyampaikan ganti rugi yang dimaksud haruslah berkaitan dengan kerugian nyata dari kejadian ini.

Baca Juga :  Pilwakot Solo 2020, PKS dan Golkar Solo Ancang-ancang Dekati Gibran

“Tidak boleh melebar ke biaya kesehatan keluarga, tanggungan pendidikan kedepan dan sebagainya. Hal itu sesyai dengan pasal 98-101 KUHAP tentang penggabungan perkara gugatan ganti kerugian. Dan yang boleh mengajukan gugatan adalah korban. Namun karena disini korban sudah meninggal dunia. Maka diteruskan pada ahliwaris, dalam anak atau istrinya. Kemudian pihak yang mengajukan harus bisa membuktikan jumlah atau besaran kerugian dengan alat bukti yang cukup, ” paparnya. Triawati PP

Loading...