loading...
Loading...
Tempo.co

ISTANBUL – Penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Suriah belum tentu peluang ISIS berkembang semakin besar.

Pasalnya, Pemerintah Turki berjanji akan melanjutkan peperangan melawan kelompok teror ISIS pasca penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah.

Pasukan milisi dukungan Turki juga berancang-ancang mendekati posisi pasukan kelompok Kurdi yaitu YPG di Kota Manbij, yang menjadi markas pasukan AS.

Juru bicara Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yaitu Ibrahim Kalin mengatakan penarikan pasukan AS dari Suriah tidak akan membuat pasukan ISIS bisa menguasai wilayah yang ditinggalkan.

“Sebagai bagian dari koalisi global melawan ISIS, kami ingin menyatakan kami tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi di tanah Suriah, Irak, atau Turki,” kata Kalin dalam jumpa pers seperti dilansir Reuters pada Senin, 24 Desember 2018.

Kalin mengatakan tidak bakal ada perlambatan dalam perang melawan pasukan ISIS. Pernyataan ini keluar menyusul kesepakatan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Turki, Erdogan, untuk melakukan koordinasi diplomatik dan militer.

Kedua pemimpin sepakat ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kekosongan kekuasaan pasca penarikan pasukan AS.

Kalin mengatakan sejumlah pejabat militer AS bakal mengunjungi Turki pada pekan ini untuk mendiskusikan detil penarikan pasukan AS.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. REUTERS

Menurut dia, Turki juga bakal meningkatkan koordinasi dengan Rusia, yang mengirim pasukan ke Suriah untuk membantu rezim Presiden Bashar Al Assad.

Dalam konflik di Suriah, Turki mendukung pasukan pemberontak Free Syrian Army, yang justru berupaya mendongkel Assad.

Rusia dan Turki bersepakat pada September 2018 untuk membentuk Zona Demiliterisasi di daerah Idlib, yang menjadi markas besar terakhir pasukan pemberontak.

CNBC melansir penarikan pasukan AS dari Suriah mengecewakan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

“Saya sangat menyesalkan keputusan yang dibuat terkait Suriah,” kata Macron dalam jumpa pers ketika kunjungan kenegaraan di Chad pada Ahad, 23 Desember 2018.

Macron menjelaskan alasannya merasa kecewa dengan keputusan Trump, yang dinilai mengejutkan banyak pihak pada pekan lalu.

“Menjadi sekutu adalah bertempur bahu membahu. Itu merupakan hal paling penting bagi seorang kepala negara dan komandan militer. Sekutu seharusnya dapat diandalkan,” kata Macron, yang beberapa kali terlibat perbedaan pendapat dengan Trump mengenai isu perubahan iklim dan perjanjian nuklir Iran.
#tempo.co


Loading...