JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Akademia

UNS Gandeng UMS Berdayakan Petani Janggelan di Wonogiri

PEMBERDAYAAN PETANI JANGGELAN – Tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat sedang mempraktikkan proses pembuatan tepung Janggelan menggunakan teknologi penepung tepat guna, Senin (15/10/18) di Desa Temboro, Karangtengah, Wonogiri. (Foto: dok PPLH UNS)
PEMBERDAYAAN PETANI JANGGELAN – Tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat sedang mempraktikkan proses pembuatan tepung Janggelan menggunakan teknologi penepung tepat guna, Senin (15/10/18) di Desa Temboro, Karangtengah, Wonogiri. (Foto: dok PPLH UNS)

SOLO-Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Politeknik Negeri Semarang membuat program pemberdayaan petani janggelan dalam bentuk alih teknologi serta diversifikasi usaha untuk meningkatkan produksi petani janggelan di Desa Temboro, Karang Tengah, Wonogiri.

Program pemberdayaan ini dikoordinir oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPLH LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama 3 bulan yakni September-November 2018 itu terkait pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kenapa janggelan dipilih, karena tanaman ini ternyata bernilai ekonomis sangat tinggi,” ujar Ketua Pelaksana Kegiatan, A Eko Setyanto, dalam siaran pers yang diterima redaksi Joglosemarnews, Sabtu (1/12/2018).

Baca Juga :  UNS Terima 148 Mahasiswa Program Permata Sakti

Ditambahkan Eko, pengabdian ini masuk dalam Skim Program Penerapan Teknologi Tepat Guna yang didanai Kementerian Ristekdikti tahun anggran 2018. Aktivitas kegiatan berupa program pemberdayaan petani tanaman Janggelan, karena tanaman Janggelan dipandang memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Tanaman janggelan bisa dibuat menjadi agar-agar atau cincau. Pada pengabdian ini diberikan hibah teknologi tepat guna berupa satu mesin pengepres daun janggelan dengan kapasitas 40 bal sehari, satu set mesin pembuat tepung Janggelan dan sarana prasarana lainnya untuk proses pembuatan ekstrak Janggelan instan,” jelasnya.

Dikatakan Eko, program kegiatan yang dilaksanakan yakni memotivasi masyarakat agar melakukan inovasi dan diversifikasi usaha Janggelan. Caranya dengan mengolah daun janggelan kering menjadi produk ekstrak Janggelan instan yang bernilai ekonomis tinggi dan menembus pasar luar negeri. Pasalnya selama ini, sambungnya, petani tanaman Janggelan Desa Temboro hanya menjual daun Janggelan kering kepada pengepul.

Baca Juga :  Uniba Solo Gelar Wisuda Sarjana Angkatan 47 Dengan Protokol Kesehatan Ketat

Dengan penerapan teknologi tepat guna pengepresan daun Janggelan, diharapkannya mampu meningkatkan kapasitas produksi pengepakan (bal) yang akan diekspor dari hanya 1,6 ton menjadi 3,2 ton. Harga jual daun Janggelan kering sendiri saat ini antara Rp 10.000-Rp 12.000/kg.

“Setelah diolah menggunakan inovasi teknologi menjadi ekstrak Janggelan instan, maka harga jualnya naik Rp 60.000-Rp 70.000/kg. Produksi ini juga bisa menjadi peluang usaha baru bagi petani Desa Temboro untuk menjadi wirausaha ekstrak Janggelan instan,” ungkapnya. (Triawati PP)