loading...
Loading...
tempo.co

MALANG – Dunia perguruan tinggi idealnya memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Hal itu, salah satunya  ditunjukkan oleh ilmuwan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil menelorkan benih kentang berkualitas tinggi.

Temuan itu berasal dari ilmuwan Agroteknologi Fakultas Pertanian UMM, Syarif Husen. Dia mengembangkan benih kentang (Solanum tuberosum L) dengan teknologi kultur in vitro.

Mekanisme pembenihan diawali dengan mengisolasi jaringan meristem sebagai bahan tanam yang diperbanyak dengan cara subkultur dalam kondisi aseptic atau bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit.

Baca Juga :  E-Money SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Sarana Penguatan Pendidikan Karakter

Setelah pertumbuhan sempurna, benih tanaman lengkap yang disebut planlet siap disalurkan ke petani penangkar.

“Planlet dijual ke petani penangkar benih sebagai bahan tanam untuk menghasilkan umbi G0 yang harus ditanam di screen house,” kata Syarif, Kamis (3/1/2019).

Planlet siap tanam ini telah mendapat legalitas dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang untuk varietas Granola Lembang. Sehingga bisa dipasarkan dan dipastikan bebas virus dan tergolong produk berkualitas.

Syarif bersama tim juga mengembangkan umbi G0 dengan teknik aeroponik. Yakni budidaya kentang tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam sehingga sangat efisien. Teknologi ini merupakan hilirasi dan komersialisai hasil riset. Dana risetnya berasal dari dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Baca Juga :  Worshop Pengembangan KTSP di SMKN 1 Karanganyar

“Teknologi telah didaftarkan di Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK),” kata Syarif.

Dengan menyelenggarakan PPUPIK, UMM berpeluang memperoleh pendapatan dan membantu menciptakan wirausaha baru. Untuk memperluas pemasarannya, ia bermitra dengan sejumlah kelompok petani untuk penangkar benih di Jawa Timur. Syarif berharap produk benih kentang dapat membantu masalah pengadaan benih kentang berkualitas dalam skala nasional.

Baca Juga :  Lulus 100 Persen, SD Kemasan 2 Surakarta Gelar Pelepasan Siswa

Riset ini didasari benih atau bahan tanam kentang yang diproduksi di dalam negeri hanya sekitar 15 persen, sisanya berasal dari impor. Selain itu, sejumlah kawasan di lereng Bromo menjadi salah satu sentra produksi kentang Nasional. Sehingga, butuh bibit berkualitas tinggi.

Data Kementerian Pertanian juga menyebutkan selama lima tahun terakhir, rata-rata produksi kentang sekutar 1,2 juta ton per tahun. Menurut Syarif, angka tersebut merupakan angka yang menjanjikan untuk dikembangkan.

www.tempo.co

Loading...