loading...
Loading...
Humas UNS

SOLO—Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menambah dua guru besar baru di bidang Ilmu Pemuliaan Tanaman dan Ilmu Kimia Organik Sintesis dan Bioorganik. Dua guru besar tersebut yaitu Prof. Dr. Ir. Sri Hartati, M.P dari Fakultas Pertanian (FP) UNS dan Prof. Venty Suryanti, S.Si., M.Phil., Ph.D dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Prof. Dr. Ir. Sri Hartati, M.P  merupakan guru besar ke 198 di UNS dan ke 28 di FP. Sedangkan Prof. Venty Suryanti, S.Si., M.Phil., Ph.D merupakan guru besar ke 197 UNS dan ke-14 di FMIPA.

Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar yang akan dilaksanakan pada Kamis 10 Januari 2019 di Auditorium UNS,  Prof. Dr. Ir. Sri Hartati, M.P  akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Peran Ilmu Pemuliaan Tanaman Bagi Pengembangan Anggrek di Indonesia”. Ilmu Pemuliaan Tanaman adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara merubah genotip atau susunan genetik suatu tanaman hingga menjadi lebih berharga atau bermanfaat. Ilmu Pemuliaan Tanaman merupakan ilmu yang penting bagi dunia pertanian karena dengan Pemuliaan Tanaman inilah tercipta varietas-varietas tanaman yang lebih berharga dan bermanfaat yang mempunyai keunggulan sifat-sifat sesuai yang diinginkan manusia.

Baca Juga :  SOLOPEDULI Buka Posko Bantuan di Sentani Jayapura

“Lalu mengapa saya memilih tanaman anggrek. Siapa yang tak kenal tanaman anggrek. Tanaman anggrek merupakan salah satu tanaman hias asal Indonesia yang banyak disukai oleh masyarakat karena keindahan bunganya. Tanaman ini di samping memiliki daya pesona juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai penghasil devisa negara sehingga sangat prospektif untuk dibudidayakan,” ujar Sri Hartati., Selasa (8/1/2019).

Hasil penelitian disimpulkan bahwa di Indonesia merupakan negara paling kaya di dunia akan spesies anggrek, yakni mencapai 5.000 – 6.000 spesies dari 25.000 – 30.000 spesies anggrek dunia ada di Indonesia.  Anggrek di Indonesia memiliki potensi manfaat yang besar yakni potensi keindahan, potensi sebagai ramuan obat, potensi sebagai bahan makanan, potensi sebagai parfum. Oleh karena itu, anggrek merupakan komoditas ekspor penghasil devisa Negara.

Sedangkan Prof. Venty Suryanti, S.Si., M.Phil., Ph.D akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Sintesis Biosurfaktan Menggunakan Substrat dari Bahan yang Dapat Diperbarui (Renewable) dan Aplikasinya”. Venty Suryanti mengatakan bahwa Surfaktan telah banyak digunakan sebagai bahan pengemulsi (emulsifier), bahan pembasah (wetting agent) dan bahan pelarut (solubilizing agent) dalam berbagai produk, yaitu makanan/minuman, deterjen, kosmetik dan farmasi . Surfaktan pada umumnya merupakan produk turunan minyak bumi yang disintesis secara kimia yang dapat mencemari lingkungan karena bersifat tidak dapat terdegradasi secara alami (non-biodegradable). Selain itu, minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbarui. Penggunaan surfaktan yang ramah lingkungan sangat diperlukan. Surfaktan yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu ketika ditumbuhkan dalam media dan kondisi tertentu atau yang disebut Biosurfaktan menjadi pilihan untuk kebutuhan ini. Biosurfaktan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan surfaktan sintetis, yaitu dapat terdegradasi secara alami (biodegradable), memiliki toksisitas yang lebih rendah, dan efektif pada berbagai nilai pH dan suhu serta mempunyai spesifisitas yang tinggi karena merupakan molekul organik dengan gugus fungsi yang spesifik yang memungkinkan aplikasi lebih luas.

Baca Juga :  KPU Solo Coret 5 WNA dari DPT Pemilu 2019

Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa Surfaktan merupakan senyawa yang sangat penting yang telah digunakan untuk berbagai aplikasi. Biosurfaktan yang bersifat biodegradable dan mempunyai toksisitas yang rendah mempunyai potensi untuk menggantikan penggunaan surfaktan sintetis. Faktor utama yang menjadi penghalang komersialisasi biosurfaktan terkait dengan biaya produksi skala besar yang tidak ekonomis. Substrat yang murah, mikroorganisme yang efektif dan metode purifikasi harus dikembangkan secara intensif untuk mengurangi biaya produksi biosurfaktan. Penelitian untuk memperoleh produk biosurfaktan dengan jenis dan atau sifat-sifat baru perlu terus dilakukan untuk keperluan aplikasi yang lebih luas. Indonesia mempunyai beraneka ragam kekayaan hayati yang sangat potensial digunakan sebagai substrat dalam sintesis biosurfaktan. Biosurfaktan dapat diaplikasikan untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan oleh logam berat dan senyawa-senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) yang toksik, dimana dalam era industrialisasi pencemaran lingkungan menjadi masalah utama di Indonesia. Triawati PP

Baca Juga :  Tak Dipinjami Uang, Pemuda ini Nekat Larikan Motor Teman

Loading...