JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Antrian Membeludak, Sejumlah Pilkades Karanganyar Sempat Memanas dan Nyaris Ricuh. Warga Sempat Teriak-Teriak

Suasana antrian pencoblosan Pilkades Serentak di Karanganyar Rabu (20/2/2019). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Suasana antrian pencoblosan Pilkades Serentak di Karanganyar Rabu (20/2/2019). Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Proses pemungutan suara di Pilkades serentak di 145 desa di Karanganyar, Rabu (20/2/2019) berlangsung relatif kondusif. Namun sejumlah desa diwarnai antrian panjang sehingga banyak warga yang berteriak mengecam panitia.

Berdasarkan pantauan di sejumlah desa, seperti  di desa Jaten, Desa Ngringo, Desa Brujul  Kecamatan Jaten, Desa Nangsri Kecamatan Kebakramat serta Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu warga harus rela antri berjam-jam untuk memberikan suara kepada calon kepala desa yang didukung.

Baca Juga :  Kasus Positif Covid-19 Karanganyar Ternyata Sudah Tembus 174. Sebanyak 67 Pasien Dirawat, 134 Sembuh dan 42 Meninggal Dunia

Panitia juga sempat kewalahan dan membagi dua pintu masuk, separuh di lewatkan dari pintu barat, separuh lagi dilewatkan pintu timur.

‘’Kalau tidak begitu, bisa membludak karena antusiasnya warga. Kesadaran yang tinggi ini karena warga merasa bersinggungan langsung dengan pilkades ini sehingga datang untuk memberikan suara,’’ kata Haryanto, salah satu panitia pilkades Desa Jaten, Rabu (20/02/2019).

Hal yang sama juga terjadi di Desa Brujul dan Desa Nangsri. Warga juga terlihat antri untuk memberikan hak suaranya. Bahkan di Desa Brujul, antrian terlihat hingga ke jalan raya.

Baca Juga :  Terus Meroket, Kasus Covid-19 Karanganyar Tambah 5 Orang Jadi 181 Positif. 142 Positif Sembuh, 33 Masih Dirawat, 43 Meninggal Dunia

Hanya Gaum yang sempat sedikit nyaris ricuh karena warga berteriak-teriak karena 5.000-an pemilih hanya ada 5 bilik sehingga antrinya lama. Untung akhirnya warga bisa diredakan.

“ Seharusnya bilik suara lebih dari lima. Kalau hanya lima, sedangkan jumlah pemilih ribuan orang, kasihan masyarakatnya,” ujar Warno, salah satu warga Desa Gaum. Wardoyo