JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Meprihatinkan dan Bikin Trenyuh, Kemiskinan Membuat Jumari dan Anaknya Tinggal di Gubug Kayu Seadanya di Tengah Kebun Sengon

Jumari sedang duduk sendiri di gubug kayu yang saat ini menjadi tempat tinggalnya di Srunggokali, RT 07, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Jumari sedang duduk sendiri di gubug kayu yang saat ini menjadi tempat tinggalnya di Srunggokali, RT 07, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin

BANTUL – Jumari (65) dan anaknya Yunawan kelas 5 SD, tinggal di sebuah gubug kayu di Padukuhan Srunggokali, RT 07, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Gubug tersebut beratapkan seng bekas dan dibuat sangat sederhana dan seadanya.

Tanpa dinding dan tak berpintu. Bangunan gubug tersebut lebih mirip andang ternak. Agar angin tak masuk ke dalam gubug, samping kanan dan kiri hanya dibalut dengan kain bekas ala kadarnya.

“Sudah enam bulan saya tinggal disini,” kata Jumari lirih ketika tribunjogja.com menemuinya, Jumat (01/2/2019) sore kemarin.

Selama setengah tahun, setiap hari Ia tinggal di gubug kayu itu bersama anak bungsunya bernama Yunawan. Saat ini Yunawan duduk di bangku sekolah dasar kelas 5.

Beruntung, gubug kayu yang ditempati oleh Jumari terdapat penerangan dua buah lampu dari tetangga sehingga Yunawan masih bisa belajar. Meski dengan segala keterbatasan.

“Kalau belajar kadang di rumah. Kadang juga belajar kelompok sama teman. Di rumah tetangga,” ujar dia.

Jumari tidak memiliki penghasilan tetap. Setiap hari kegiatan dia hanya membereskan pekarangan dan membuat arang dari bonggol kayu. Arang itu sesekali ia jual di warung. Hasil yang didapat tidak seberapa. Karena kata Jumari tidak setiap hari laku.

Baca Juga :  UPNVY Perkuat Promosi Digital Batik Tulis Giriloyo di Masa Pandemi Covid-19

“Satu karungnya Rp 80 ribu. Tapi lama karena tidak bisa laku cepat,” keluh dia.

Tak ayal setiap hari ia mengaku tak pernah ada pemasukan. Kebutuhan makan, dia dan anaknya mengandalkan uluran bantuan dari tetangga yang berbaik hati. Kadang juga ada bantuan yang kata Jumari datang dari Kecamatan.

“Ada namanya mbak Nurul. Dia kerja di Kecamatan. Kadang datang sama temannya membawa sembako kesini,” ujar dia.

Bantuan tak selalu datang setiap waktu. Kondisi ekonomi keluarga yang tak ada pemasukan membuat Jumari pasrah.

Usia sudah tak lagi muda namun kebutuhan untuk anak sekolah kian banyak. Jika dalam kondisi kepepet, Jumari mengaku Bon (ngutang) ke teman ataupun warung di kampung.

“Jika dihitung. Hutang saya semuanya sudah sampai dua juta. Mau gimana lagi, saya mau bayar tapi belum sanggup bayar,” ungkapnya pasrah.

Melihat kediaman Jumari memang memprihatinkan. Sangat jauh dari kata layak. Ia tinggal di gubug sederhana berukuran sekira 5 x 2 meter persegi. Jangan tanyakan perabotan. Karena barang berharga di dalam gubug itu hanya satu kasur. Tempat istirahat saat malam menjelang.

Kasur itu sudah sangat lusuh. Diletakkan di pojok gubug tanpa dibalut sprei.

Tidak ada hiburan dan tak ada barang berharga. Bahkan kamar untuk mandi tidak ada. Kebutuhan MCK, Jumari dan anaknya biasa mengandalkan sungai kecil di depan gubug tempat mereka tinggal.

Baca Juga :  Kendarai Motor di Jalan, Wanita Ini Tiba-tiba Lemas dan Meninggal

Ketika hujan turun, kata Jumari gubug miliknya bocor dimana mana. Ia dan anaknya sebisa mungkin mencari ruang di dalam gubug supaya tidak kena tetesan air hujan.

“Kalau ditanya dingin. Pastinya dingin. Tapi mau gimana lagi. Saya tidak punya tempat tinggal lain,” tuturnya.

Semenjak pisah dengan sang Istri tiga tahun silam, Jumari memang hidup nomaden. Ia tidak punya tempat tinggal. Hidup selalu berpindah-pindah.

Beruntung, ada seseorang bernama Tugiman berbaik hati. Tugiman memperbolehkan pekarangan miliknya ditempati oleh Jumari dan anaknya.

“Saya boleh tinggal disini. Syaratnya cuma satu membersihkan pekarangan ini,” jelas dia.

Keluarga

Jumari yang saat ini berusia 65 tahun sebenarnya memiliki dua anak dan masih punya istri sah. Namun sang istri, Rumilah, diceritakan Jumari tak mau lagi tinggal bersama.

Alasannya tak tau mengapa. Namun Jumari menduga karena dirinya tak sanggup memberikan nafkah sehingga harus berpisah.

“Sudah tiga tahun saya dan istri, pisah. Saya bawa anak bungsu dan istri saya hidup sama anak saya yang pertama. Namanya Maryani,” kata Jumari, bercerita.

www.tribunnews.com