JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

9 Juta Anak di Indonesia Alami Stunting, Kementerian Kominfo Ajak Kepala Daerah dan Warga Lebih Peduli Tekan Stunting 

Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta (tengah) saat menjadi narasumber dialog interaktif pencegahan stunting di stasiun televisi Bali TV. Foto/Kemenkominfo
Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta (kiri) saat menjadi narasumber dialog interaktif pencegahan stunting di stasiun televisi Bali TV. Foto/Kemenkominfo

DENPASAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Bahaya kasus stunting atau gagal tumbuh terus menjadi perhatian pemerintah. Melalui Kementerian Kominfo RI, pemerintah kembali mengajak pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersama melakukan pencegahan kasus stunting menyambut bonus demografi 2030.

Ajakan itu salah satunya disampaikan melalui dialog interaktif di televisi yang digelar Ditjen IKP Kemenkominfo RI di Denpasar, Bali, Senin (18/3/2019). Dialog interaktif dengan tema “Cegah Stunting, Itu Penting!” tersebut digelar dengan menggandeng stasiun TV lokal setempat, Bali TV.

Kegiatan dialog menghadirkan narasumber Direktur Informasi, Komunikasi Pembangunan (IKP) Kementerian Kominfo RI, Wiryanta bersama praktisi kesehatan dan dinas kesehatan setempat.

Dalam kesempatan itu, Wiryanta menyampaikan pencegahan stunting menjadi sangat penting. Sebab, berdasarkan data di Kementerian Kesehatan, saat ini 37,2 persen atau sekitar 9 juta anak di Indonesia mengalami stunting.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya.

Baca Juga :  Kabar Baik, Kini Penumpang Pesawat Tak Perlu SIKM Lagi

“Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 (dua) tahun,” paparnya.

Ia menguraikan stunting bukanlah isu sederhana. Faktor utama penyebab terjadinya stunting juga bukan faktor keturunan seperti yang selama ini menjadi paradigma di masyarakat.

Sebaliknya banyak faktor pemicu seperti kendala lingkungan jauh lebih berperan dalam terjadinya stunting.

Stunting, lanjutnya, tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang.

“Dampak lanjutan dari stunting atau yang dikenal dengan fenomena Baker berefek pada kesehatan dan produktivitas anak. Tingkat kecerdasan yang menurun, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan,” jelas Wiryanta.

Lebih lanjut disampaikan, penanganan stunting tidak hanya dari sisi kecukupan gizi. Budaya dan pola hidup sehat melalui perubahan pola hidup dan pola makan ke arah yang lebih sehat sangat diperlukan sehingga kekurangan gizi kronis dapat diatasi.

Baca Juga :  Polisi Ungkap Ada Dugaan Tindak Pidana dalam Insiden Kebakaran di Kejakgung, Sebut Asal Api Bukan Akibat Korsleting

Terkait upaya itu, bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah atau sektor kesehatan semata. Akan tetapi sinergitas dan peran aktif semua pihak mulai dari pemerintah, orangtua dan berbagai pihak sangat penting untuk menekan sekaligus mencegah kasus stunting.

“Kementerian atau lembaga pemerintah melalui para menteri, Gubernur serta Kepala Daerah, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat, juga harus memberikan dukungan, komitmen, dan peran-sertanya dalam meningkatkan kesadaran hidup sehat bagi setiap orang. Kementerian Kominfo sesuai tugasnya menyosialisasikan kepada masyarakat langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi persoalan stunting. Sehingga masyarakat semakin paham dan ke depan angka stunting bisa semakin ditekan,” tandas Wiryanta.

Sosialisasi juga terus diintensifkan melalui berbagai kanal media dan jalur sosialisasi lain. Termasuk lewat pertunjukan rakyat wayangan dan dialog interaktif yang digelar ke daerah-daerah. Wardoyo