JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Franz Magnis Suseno: Golput Melemahkan Demokrasi

franz magnis
Tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sikap golongan putih alias Golput dalam Pemilihan Presiden 2019 merupakan bentuk deligitimasi terhadap proses demokrasi yang saat ini berjalan di Indonesia.

Hal itu ditegaskan oleh rohaniwan dan budayawan, Franz Magnis Suseno.

“Makin sedikit memilih, makin masyarakat menanggap demokrasi tak penting,” kata Romo Magnis saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (30/3/2019).

Mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu menilai dengan memutuskan menjadi golput, artinya seorang tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan Indonesia untuk lima tahun mendatang.

Baca Juga :  Kasus Klinik Aborsi Ilegal Jalan Percetakan Negara: Polisi Sebut Proses Menggugurkan Janin Hanya 5 Menit

Baik calon inkumben Joko Widodo maupun penantangnya Prabowo Subianto, menurut Romo Magnis memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ia mengatakan selama empat tahun lebih menjabat presiden, Jokowi memang memiliki banyak kelemahan. Adapun Prabowo belum dapat dinilai sama sekali karena belum pernah menjabat.

Namun setidak ideal apapun calon yang tersedia, tidak bisa dijadikan alasan untuk menjadi golput.

“Kalau begitu, sekurang-kurangnya memastikan yang anda anggap paling buruk jangan terpilih. Dan itu logika internal yang kuat,” kata pria berusia 82 tahun itu.

Romo Magnis mengatakan menghormati orang yang memilih golput. Namun ia tetap menyebut golput ini sebagai hal yang berbahaya jika terus dibiarkan.

Baca Juga :  Bantuan Kuota Internet Tak Bedakan Status Sekolah Negeri atau Swasta, Mendikbud: Ini Bantuan untuk Semua

“Golput akan memperlemah demokrasi kita yang belum mantap. Karena menunjukkan bagi mereka sama saja apakah bisa memilih atau tidak, dan itu akan membawa kita ke arah pemerintahan otoriter kembali,” kata dia.

Karena itu, ia menyarankan pada masyarakat, khususnya pada generasi muda, untuk menetapkan hatinya dan menggunakan hak suaranya. Pilihan itu ia sebut akan menentukan nasib bangsa Indonesia untuk lima tahun ke depan.

www.tempo.co