JOGLOSEMARNEWS.COM Market

Heru Cahyono, Lestarikan Batik dengan Dirikan Museum Batik Digital Ndalem Gondosuli

Herus Cahyono (kanan) saat menerima anugerah Pers Jawa Tengah 2019, di Lorin Hotel, Jumat (15/3/2019). Foto JSnews
Herus Cahyono (kanan) saat menerima anugerah Pers Jawa Tengah 2019, di Lorin Hotel, Jumat (15/3/2019). Foto JSnews

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta memberikan Anugerah Pers di tahun 2019, dalam rangka puncak peringatan Hari Pers Nasional dan HUT ke-73 PWI, Jumat (15/3/2019) di Ballroom Lorin Hotel Solo. Penghargaan diberikan kepada 22 sosok yang dinilai telah memberikan kontribusi dan sumbangsih pemikiran serta kinerja di bidang tugas dan profesi masing-masing, kepada bangsa dan negara.

Salah satu sosok tersebut adalah Heru Cahyono pelaku dan pelestari batik di Kota Surakarta. Ia memperoleh penghargaan Anugrah Pers Bidang Industri dan Kewirausahaan bersamaan dengan 21 tokoh lain yang terbagi dalam kategori; Bidang Pemerintahan, Bidang Pendidikan, Bidang Industri dan Kewirausahaan, Bidang Pariwisata, serta Bidang Hukum.

Orang banyak mengenal Heru sebagai pengusaha batik. Lebih dari itu, pria berkumis tebal ini tak hanya menekuni usaha batik melainkan juga punya komitmen yang kuat terhadap upaya pelestarian batik, yang merupakan warisan dunia oleh Unesco. Pelestarian yang dilakukan Heru Cahyono dikemas dalam konsep Batik Gallery & Education, sebagai destinasi wisata baru di Kota Solo yang diberi nama Ndalem Gondosuli. Terletak di Kampung Batik Laweyan, yang dirancang sebagai sarana mempersiapkan generai muda trampil dan kreatif dalam hal perancangan, penciptaan, dan pelestarian batik.

Pemikiran serta kinerja sebagai pelaku dan pelestari batik, Heru Cahyono mendatangkan sarana pembelajaran untuk menarik minat generasi muda terhadap batik di Museum Gondosuli. Sarana tersebut meliputi; Museum Batik Multimedia Digital serta Batik Workshop Education, yang diterapkan pada bangunan peninggalan awal abad 20 dengan kelengkapan multemedia yang dapat menjadikan belajar membatik mudah dan menyenangkan.

“Kegiatan workshop dan edukasi batik di Ndalem Gondosuli meliputi batik short course dengan materi pelatihan batik dasar hingga program intensive course membatik professional. Batik Workshop & Education dapat menjadi rujukan outing class dari tingkat PAUD hingga SMA/Mahasiswa. Dapat pula menjadi alternative bentuk character building bagi instansi maupun corporate, “ ungkap Heru Cahyono.

Kontribusi dan sumbangsih di pelestarian batik yang dilakukan Heru juga melibatkan para pembatik-pembatik sepuh. Ini bisa diakses oleh semua kalangan di Gerai Batik Omah Laweyan yang terletak di Jalan Dr Rajiman Laweyan. Pengunjung bisa melihat para pembatik usia senja, yang penuh dengan dedikasi menorehkan malam panas pada helaian kain yang dapat dinikmati seluruh pengunjung.  Gerai ini mengangkat konsep Solo tempo dulu, memberi kenyamanan dalam berbelanja batik.

“Kami juga menyediakan public area, yang dapat mewadahi para seniman, pengrajin, maupun masyarakat umum dalam bidang batik, pagelaran seni buda, maupun seni rupa lainnya. Secara reguler menampilkan event budaya yang mengakomodir para pelaku seni yang minim atas kantong-kantong penyaluran ataupun pementasan karyanya,” ungkap Heru kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Museum batik bernama ndalem Gondosuli yang dibangun Heru menyimpan koleksi-koleksi seputar batik secara digital. “Yang melayarbelakangi saya mendirikan museum batik digital dan edukasi batik nDalem Gondosuli adalah karena rasa keprihatinan saya terhadap kondisi industri batik saat ini yang cenderung stagnan, tidak menentu akan dibawa kemana,” ungkapnya.Dikatakan, saat ini regenerasi pembatik di era milenial sudah mulai langka.

Hal itu dikarenakan tidak adanya regenerasi pembatik khususnya di Kota Solo. Bahkan, pembatik di Kota Solo saat ini usianya kisaran 50 tahun ke atas dan jumlahnya pun tidak begitu banyak.“Kota Solo adalah leluhur pengrajin batik khususnya daerah Kampung Laweyan. Dengan menarik sejarah ke belakang kami berusaha menggaungkan kembali industri batik ini hingga ke mancanegara melalui museum batik digital nDalem Gondosuli. Kemajuan teknologi menjadi momentum pembelajaran batik bagi generasi milenial.

Sejalan dengan hal itu, kami menginginkan warisan budaya leluhur tetap dilestarikan hingga masa yang akan datang,” tegasnya. Museum batik digital menyajikan berbagai informasi yang praktis, dengan adanya teknologi bisa memberi kemudahan bagi semua kalangan di seluruh penjuru dunia agar dapat mengakses dan mengenal berbagai macam informasi batik nusantara dan sejarahnya. Bentuk komitmen nDalem Gondosuli dalam upaya pelestarian budaya adalah melakukan kegiatan pelatihan dan pengenalan batik bagi semua kalangan masyarakat. Heru Cahyono juga melakukan inovasi dengan menggelar berbagai kegiatan diantaranya membatik di tempat umum, mall, Car Free Day dan sekolah-sekolah, yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat agar ikut serta melestarikan budaya nusantara.

Pada April 2019, Heru Cahyono dengan Omah Batik akan menyelenggarakan Batik Run di 34 provinsi dengan tujuan untuk menyatukan serta melestarikan warisan budaya nusantara. Selain memberikan edukasi serta inovasi batik, saat ini dia juga sedang mengembangkan sebuah teknologi aplikasi untuk mewadahi dan memasarkan semua industri batik usaha kecil menengah (UMKM) dalam bentuk aplikasi yang bernama omahbatik.id. Dalam aplikasi tersebut, semua jenis dan motif batik nusantara dapat diakses oleh masyarakat dunia serta bisa melakukan transaksi dengan mudah. “Perlu ada generasi penerus khususnya anak muda yang kreatif dan selalu berinovatif dalam perkembangan teknologi industri batik,” ungkapnya.

Transformasi digitalisasi batik melalui Museum Batik Digital nDalem Gondosuli mendapat dukungan penuh dari Yayasan Batik Indonesia (YBI). Museum batik digital menurut Yayasan Batik Indonesai merupakan terobosan pertama kali yang diluncurkan dalam industri batik nasional dan internasional.“Museum batik digital memang bagus dan pas dengan generasi milenial yang identik dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi.”(Marwantoro| Syahirul)