loading...
Loading...
surabaya.tribunnews.com/rahadian bagus

PONOROGO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Adanya 52 warga Ponorogo yang termakan isu kiamat dan beramai-ramai pindah ke Malang ternyata mendatangkan berkah bagi warga yang ditinggalkannya.

Seorang warga yang mendapat berkah isu kiamat di Ponorogo adalah Sumono. Ia membeli salah satu rumah dari warga yang pindah ke Malang seharga Rp 20 juta.

Rumah itu dibeli dari warga yang sudah pindah ke Malang gara-gara isu kiamat terjadi empat tahun lagi. Mereka pindah ke Kasembon, Kabupaten Malang. Ada empat rumah milik warga yang ikut pindah ke Malang dijual.

Marimun yang merupakan warga Dusun Krajan, Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo membenarkan ada warga yang terkena isu kiamat menjual rumah.

Salah satu rumah itu dibeli oleh anaknya bernama Sumono. Sumono membeli rumah milik pasangan suami istri Marimun dan Sriyanti. Pasutri itu masih satu kerabat dengannya.

“Sudah sekitar seminggu di sini, saya juga nggak dipamiti. Katanya ikut pengajian, mondok ke Malang,” kata Karimun saat ditemui SURYA.co.id di lokasi, Rabu (13/3/2019) petang.

Kapan saudaranya akan kembali lagi? Karimun mengatakan tidak mengetahui.

“Nggak tahu kapan kembalinya, ndak dikasih tahu,” katanya.

Ia mengatakan anaknya membeli rumah tersebut seharga Rp 20 juta.

“Rp 20 juta,” katanya.

Sebelumnya, sebanyak 52 warga Dusun Krajan, Desa Watu, Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo meninggalkan rumahnya untuk pindah ke Malang.

Baca Juga :  Sandiaga Tak Setuju Ajakan Waketum Gerindra untuk Boikot Pajak

Berita tersebut juga membuat pasangan suami istri Darti (48) dan Soimin (60), warga RT 4/RW 01 Dusun Krajan, Desa Watu, Bonang, Kecamatan Badegan itu kaget.

Mereka mengatakan, tetangga pindah ke Malang secara tiba-tiba itu tanpa berpamitan.

Ketiga tetangganya tersebut, yakni pasangan suami istri, Marimun dan Sryiani, Marni dan Winarsih, Nyaman dan Eldiana.

Ketiga pasangan suami istri ini juga mengajak masing-masing anak mereka.

“Sudah sekitar satu minggu ini. Nggak tahu ke mana, tiba-tiba menghilang. Saya juga kaget, wong sehari-hari biasanya cari rumput sama saya,” kata Darti.

Darti mengatakan, tetangganya yang berangkat ke Malang memang mengikuti pengajian yang dipimpin Katimun, seorang warga di desanya.

“Setiap malam Rabu dan malam Sabtu mereka ikut pengajian,” katanya.

16 KK

Sementara itu, Kepala Desa Watu Bonang, Bowo Susetyo membenarkan ada 16 KK di dua dusun yakni Dusun Krajan dan Dusun Gulun yang pindah ke Malang untuk mengikuti pengajian.

“Yang ikut 16 KK, 14 KK di Dusun Krajan dan 2 KK di Dusun Gulun,” katanya.

Dia juga membenarkan ada empat rumah milik warganya yang berangkat ke Malang dijual seharga Rp 20 juta.

Baca Juga :  Ini Yang Dibahas Gerakan Suluh Kebangsaan Bersama Megawati

“Rata-rata dijual 20 jutaan, untungnya yang beli tetangga atau saudaranya,” katanya.

Bowo mengatakan, 52 warganya yang pindah ke Malang karena isu kiamat pergi secara sembunyi-sembunyi.

Mereka, kata Bowo, juga tidak mengurus administrasi surat pindah di kantor desa dan sekolah.

“Keberangkatan warga itu disembunyikan. Ada sesuatu yang disembunyikan,” kata Bowo.

Bahkan, Bowo mengatakan ada satu warga yang berencana akan pindah, saat ditanya mengaku tidak akan berangkat.

Namun, pada malam harinya mereka berangkat ke Malang secara sembunyi-sembunyi.

Bowo menambahkan, dari 53 warga desa yang pindah ke Malang, 10 di antaranya masih SD dan dua di antaranya masih berstatus pelajar SMP.

Selidiki Penyebar Isu Kiamat

Sementara itu, Polres Batu menyelidiki kasus terkait fatwa isu kiamat yang menyebar luas di masyarakat.

Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto mengatakan penyelidikan ini dipercepat agar tidak terus menerus menyebar.

Ia juga sudah berkoordinasi dengan Polres Ponorogo terkait kasus ini.

“Biarlah ini menjadi ranah kami untuk penyelidikan. Bukan ranah Ponpes ataupun masyarakat. Kami percepatan, agar tidak terlalu melebar berita hoax ini,” kata Budi saat rilis di Polres Batu, Rabu (13/3/2019).

Adapun informasi yang menyebar di masyarakat dan dinyatakan tidak benar.

Yaitu isu kiamat sudah dekat, soal perang hingga kemarau panjang, sehingga jemaah diminta menjual semua aset dan menyetor ke pondok.

Baca Juga :  Andre Rosiade Tak Tahu Keberadaan Prabowo, Dahnil Anzar Bilang ke Brunei

Selain itu juga ada jamaah membeli senjata tajam untuk berperang, sampai anak – anak yang diharuskan memotong tangan adiknya untuk menjadi santapan makanan.

“Sudah dengar sendiri dari pihak ponpes ini dan dari Anshor serta MUI bahwa pihak ponpes ini tidak menyuruh melakukan hal itu. Dan kami juga sudah melakukan mediasi beberapa pihak,” imbuhnya.

Terkait kejadian ini, ia juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar.

Pihaknya mempercepat proses penyelidikan ini agar tidak merugikan pihak-pihak yang lain.

Karena ditakutkan menimbulkan keresahan dan amarah dari ponpes yang lain.

“Tingkat keamanan ini pasti kami lakukan, tetapi kami tidak melakukan sendiri. Kami dibantu pihak lainnya untuk mengamankan. Kami sangat terbuka, jika ada aduan terkait hal ini,” tuturnya.

www.tribunnews.com

Loading...