JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kesaksian Poktan-Poktan Penerima Hibah Alsintan di Sragen. Tak Hanya Jadi Ajang Pungli, Bantuan Bernilai Ratusan Juta Sebagian Sudah Rusak dan Mangkrak

Mesin pemanen padi Conbine Harvester bantuan hibah APBN di salah satu Poktan di Sambirejo, yang sudah rusak dan tak bisa difungsikan lagi. Foto/Wardoyo
Mesin pemanen padi Conbine Harvester bantuan hibah APBN di salah satu Poktan di Sambirejo, yang sudah rusak dan tak bisa difungsikan lagi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus skandal korupsi bermodus pungutan liar (pungli) bantuan hibah alat mesin pertanian (Alsintan) dari dana APBN dan APBD Provinsi, terus memunculkan fakta miris. Selain jadi bancaan pungli, ternyata sebagian alat mesin yang dibantukan dari dana rakyat untuk kelompok tani itu, sudah rusak.

Tak tanggung-tanggung, alat mesin yang rusak itu justru mesin yang nilainya ratusan juta. Fakta itu terungkap dari hasil investigasi JOGLOSEMARNEWS.COM ke lapangan.

Dari kesaksian sejumlah pengurus dan ketua Poktan, modus tarikan dana senggekan itu memang sangat rapat dan diam-diam. Namun polanya hampir sama, yakni ada tawaran bantuan hibah Alsintan namun ada embel-embel syarat harus siap untuk menebus.

Jika tak siap membayar, maka bantuan akan dialihkan. Namun jika siap diminta untuk membuat proposal.

“Awalnya memang ditawari orang kepercayaan partai. Ini ada bantuan traktor, kalau mau bayar Rp 5 juta nanti langsung diajukan. Karena nilainya traktor juga lumayan di atas Rp 20an juta, akhirnya saya iyakan. Kalau enggak, akan dialihkan ke yang mau,” tutur S, salah satu penerima Alsintan di wilayah Tanon kepada wartawan Jumat (1/3/2019).

Baca Juga :  Meninggal Terpapar Covid-19, Ustadz Muda Sragen, Habib MA Tinggalkan Satu Istri dan 4 Anak. Dikenal Baik dan Sosok Cerdas

Tak hanya di Tanon, pengakuan serupa juga datang dari penerima Alsintan lewat parpol yang sama di beberapa kecamatan. RT, salah satu tokoh di Kecamatan Sragen Utara menyampaikan jika modus nyenggek untuk menebus bantuan Alsintan itu memang benar terjadi. Namun sebelumnya memang sudah dipesan untuk sama-sama saling menjaga rapat-rapat.

Menariknya, dari ribuan bantuan Alsintan itu ternyata mengelompok hanya di beberapa kecamatan yang punya kedekatan basis massa dengan salah satu parpol terbesar di Sragen.

Dari daftar Alsintan yang diserahterimakan, mayoritas ada di wilayah Kecamatan Mondokan, Jenar, Miri, Kedawung, Sambirejo, Kalijambe, dan sebagian kecamatan lain.

Dari penelusuran ke beberapa kelompok, sebagian memang terlihat menutupi dan mencoba beralibi jika tidak ada tarikan dana tebusan.

Di sisi lain, sebagian alat mesin yang diterima Poktan ditemukan sudah rusak dan tak berfungsi. Salah satunya mesin panen padi Combine Harvester yang diterima Kapoktan di Blimbing Sambirejo.

Mesin combine harvester besar dari hibah APBN  tahun 2012 model Crown Combine Harvester CCH 2000 star itu ternyata sudah tak bisa dipakai lagi. Menurut Ketua Gapoktan Margo Mulyo Blimbing, Citro Sukarno, mesin combine keluaran perdana seharga hampir Rp 300 juta itu sudah tak bisa digunakan karena onderdil dan rodanya sudah rusak.

Baca Juga :  Ada Soal Dinilai Berbau Ajaran Komunisme, Dinas Pendidikan Sragen Akhirnya Tarik 11.000 Lebih Buku Modul PPKN SMP dari Siswa. Lembaran Halaman Kontroversial Langsung Diganti

“Kalaupun diperbaiki habise sekitar Rp 35 juta, paling kalau dijalankan hanya dapat hasil Rp 2 juta. Makanya mending didoprokne Mas. Habis mau gimana lagi, biaya ndakdakne nggak nuntut dengan hasilnya. Makanya sudah setahun ndoprok,” paparnya ditemui Selasa (5/3/2019).

Ia mengatakan mesin combine 2012 itu memang bukan satu-satunya bantuan yang diterima Gapoktannya. MenurutBah Citro, masih ada dua combine harvester besar yang diterima Poktan dam Gapoktan yang dipimpinnya.

Lalu ada mesin tanam padi, traktor roda dua, pemipil jagung dan lainnya yang diterima oleh kelompoknya.

“Yang terakhir tahun 2018 lalu dapat combine besar waktu kunjungan Pak Menteri di Puro. Kalau itu sampai sekarang masih operasi. Memang  sangat membantu. Nanti dikelola kelompok, sisa operasional masuk kas kelompok. Dulu yang ngasih lewat dinas. Juga dari Pak Daryo. Setahun bisa hasilkan sisa sekitar Rp 20-25 juta dari combine itu,” tukasnya. Wardoyo