loading...
Loading...
Gerbang Alami masuk ke Pasar Kebon Empring, Bintaran, Piyungan, Bantul
JSnews/Kiki DS

Semilir angin langsung menerpa ketika langkah kaki tiba di kawasan pinggir Kali Gawe itu. Tepatnya di Bintaran Wetan,Srimulyo, Piyungan, Bantul. Di pinggir Kali Gawe sepanjang 500 meter ini tampak semarak dan ramai oleh banyak orang. Puluhan gubuk tertata rapi menjajakan aneka masakan dan minuman. Tengok saja ada sate padang, nasi rendang, lotek, gado-gado, aneka bubur, jajanan pasar, bakso, soto, cilok, sate kere, serabi kucur, es tebu, es dawet, aneka gorengan dan masih banyak lainnya. Harganya pun cukup terjangkau kantong, mulai Rp 500 pun ada.

Sementara itu, di sejumlah titik terhampar tikar memanjang penuh orang yang asyik bersantap ria. Terdengar canda dan gurauan dari mereka. Di beberapa sudut disediakan pula kursi-kursi bambu atau rotan sebagai pelengkap untuk duduk para pengunjung. Celoteh anak-anak bersahutan dari segala penjuru, menghiasi suasana hari libur kala itu. Mereka seru bermain eggrang, ayunan dan lomba bakiak. Di bibir Kali Gawe, tampak tiga bocah gembira ciblon (bermain air) bersama ayahnya.

Ini adalah pemandangan yang terlihat di Pasar Kebon Empring, Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Siapa sangka lahan yang awalnya tak terurus, hanya menjadi tempat pembuangan sampah dan kebon berisi bambu-bambu itu, kini menjadi salah satu obyek wisata baru, wisata kuliner sekaligus wisata air. Meski namanya Pasar Kebon Empring, namun untuk transaksi di tempat ini langsung menggunakan mata uang asli.

Baca Juga :  Begini Klarifikasi Pemilik Warung Makan Terkait Peristiwa 'Unboxing Tabung Gas'
Lapak aneka makanan dan minuman.
Jsnews/Kiki Dian

Berdiri 2018 ketika Ramadhan lalu, menurut Ario Krisharyanto, Ketua Pengelola Pasar Kebon Empring, keberadaan pasar kuliner ini sesungguhnya karena ketidaksengajaan.

“Dulunya ini lahan kosong, sebagian punya warga, istilahnya wedi kengser jatahnya kali. Kemudian tahun 2018 terjadi banjir, jembatan hancur. Secara swadaya warga lantas membuat jembatan gantung. Ternyata salah satu penggerak wisata dari Jogja melihat potensi wisata yang bisa digali dari sini,”terangnya ditemui Joglosemarnews, pekan lalu.

Selanjutnya warga dikumpulkan untuk mencari dan menggarap bidang yang bisa digarap. Ternyata kebon seluas 2000-3000 meter ini bisa diberdayakan, terpikirlah saat itu menjadi pasar Ramadhan. Timbunan sampah dan pohon bambu lantas dibersihkan dan disulap menjadi pasar Ramadhan,  para warga boleh menjual aneka makanan untuk buka atau sahur di sana. Sayangnya saat hari pertama, keberadaan Pasar Empring ini sepi  pengunjung, dan kemudian hari kedua ditutup untuk perbaikan.

Jsnews/Kiki Dian

“Eh ndilalah, hari kedua Ramadhan justru ramai pengunjung, sementara yang jualan tidak ada. Akhirnya kita menghubungi para pedagang seadanya. Mereka lantas berjualan dan terus ramai. Semakin banyak pengunjung sampai hari ini, sehingga kita kelola lebih menarik, “ terangnya.

Pasar Kebon Empring Piyungan tersebut, selain berada di tepian kali Gawe, juga memanfaatkan lahan pekarangan rumah belakang 11 warga Bintaran Wetan RT 04. Setiap bulannya mereka akan mendapatkan bagi hasil keuntungan dari sewa lahan tersebut oleh pengelola.

Baca Juga :  Ribuan Mahasiswa Yogyakarta Turun Gelar Long March dalam Aksi #GejayanMemanggil, Ruas Jalan Kolombo Macet

“Jadi, di sini ada 23 pelapak, warga Bintaran Wetan. Mereka jualan makanan bukan instan, yang penting sehat. Ke depan diupayakan makanan khusus tradisional  tidak hanya dari Jawa tapi dari mana saja. Nah, mereka dibebani dana kebersihan, tiap hari Rp 2.000, sewa lapak Rp 5.000/hari, sedangkan hari libur atau Minggu Rp 7.000,”terangnya.

Sejauh ini untuk operasional, imbuh Yoyok sapaan Ario selain mengandalkan dana kebersihan dan sewa lapak itu juga mengandalkan parkir sukarela, peron sukarela, sewa tikar dan sewa ban. Jumlah ini ditambah swadaya pengelola yang berjumlah 17 orang.

“Memang belum ada bantuan dari pihak manapun. Kami masih berusaha untuk mandiri. Operasional terbesar setiap bulan adalah listrik, air, buang sampah,gaji petugas sapu. Kemudian bagi hasil kepada warga yang lahannya kita pakai untuk pasar ini. Besar atau kecilnya lahan tidak menjadi patokan, karena bagi hasilnya sama,”tuturnya.

Buka setiap hari mulai pukul 07.00WIB hingga menjelang Magrib, Pasar Kebon Empring ini selalu ramai pengunjung. Sekitar 500 orang pada hari biasa, dan bisa mencapai 2.000 pengujung saat liburan.

Tepian Kali Gawe yang dipercantik

“Semakin terlihat hasilnya. Namun tantangan yang dihadapi pun juga berat lebih menyangkut sumber daya manusianya, misalnya  harus mengatur lapak supaya tertib, taat dan menjaga komitmen pengelola itulah yang sulit,”tandas Yoyok.

Baca Juga :  Gunung Merapi Sempat Semburkan Awan Panas Setinggi 800 Meter

Salah satu pengelola lapak warung, Ibu Win mengaku sejak dibuka pasar Kebon Empring tersebut, dan turut berjualan di sana ekonomi keluarganya sediit demi sedikit bisa terangkat. Menjual aneka kerupuk, tempe bacem, jadah, es tebu dan kopi yang disajikan dengan bambu membuat pengunjung tertarik untuk menikmatinya.

“Harga es tebu juga hanya Rp 3.000 per cup, banyak yang suka. Kalau hari libur atau minggu itu pasti yang datang banyak. Alhamdulillah, bisa membantu keluarga, “.terangnya.

Merelakan lahan pekarangannya untuk disewakan dan menjadi bagian dalam Pasar Kebon Empring, Piyungan tampak membahagiakan Mbah Sudiyono (76), warga Bintaran Wetan RT 04. Lahan belakang rumah miliknya dulu tidak kopen (tidak terurus-red), penuh sampah dan dia sendiri yang harus membersihkannya..

“Ada 11 warga yang lahannya disewa, dan setiap bulan dapat uang (bagi hasil-red). Kadang Rp 320.000 per bulan dapatnya. Pokoknya alhamdullillah, lumayan bisa buat tambah-tambah, bisa keurus lahannya, “ucapnya didampingi istrinya yang sedang bersantai di gubuk buatan tak jauh dari rumahnya. Lewat gubuk buatan ini pula, mbah Sudiyono dan istrinya menikmati keramaian dan banyaknya pengunjung yang datang. Kiki Dian S

 

 

Loading...