loading...
Loading...
Foto/Humas Polda

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Polda Jateng melalui Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja mengungkapkan bahwa 40 Warga Negara Asing (WNA) diduga melakukan tindak penipuan sekaligus pemerasan.

Sasarannya adalah warga negara asing yang ada di Taiwan ataupun China yang memiliki permasalahan hukum. Korban selanjutnya diminta membayar sejumlah uang kepada pelaku.

Hal itu terungkap saat digelar Konferensi Pers di Rumah Detensi Imigran (Rudenim) Semarang, Senin (22/4/2019).

“Mereka kami jerat dengan Pasal 28 Ayat 1 UU No. 11/2008 tentang ITE,” papar Agus dilansir Tribratanews Polda Jateng.

Baca Juga :  Sempat Membara Kebakaran, Ekosistem Taman Gunung Merbabu Dipulihkan Dengan 30 Ekor Landak Jawa. Semua Dipasangi GPS, Diharap Selamatkan Ancaman Kepunahan

Menurutnya, 40 warga negara asing (WNA) asal Taiwan dan China ditangkap petugas Imigrasi Semarang dari sebuah rumah di Puri Anjasmoro Blok M2 Nomor 11 Kota Semarang.

Mereka diamankan pada Kamis (18/4/2019) karena merupakan pelaku kejahatan penipuan menggunakan alat komunikasi elektronik terhadap warga asing di Taiwan maupun China.

“Kegiatan ini dikategorikan kejahatan cybercrime,” tambah Kepala Divisi Imigrasi Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah, Ramli HS.

Baca Juga :  Kecelakaan Toyoya Rush dan 2 Tronton di Gadingrejo. Mobil Rusak Parah, 2 Pengemudi Jadi Korban 

Sejumlah barang bukti berhasil diamankan petugas. Di antaranya 29 ponsel, 64 unit telepon rumah, 10 paspor berkebangsaan Taiwan, uang tunai Rp 35 juta, 3 pejer, satu bendel dokumen, dan beberapa peralatan komputer.

Kombes Pol Hendra Suhartiyono Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng menambahkan bahwa para tersangka juga memodifikasi rumah yang mereka sewa agar kedap suara. Mereka kemudian menelepon korban di negara mereka untuk melancarkan penipuan.

Baca Juga :  Ngeri, Karyawan Pabrik Kayu di Desa Cukil Semarang Tewas Tergilas Mesin Roll. Saat Dievakuasi, Tubuhnya Dalam Kondisi Begini.. 

“Mereka berpura-pura sebagai penegak hukum yang menghubungi target yang berada di China dan Taiwan dan menginformasikan bahwa target (korban) terlibat pidana dan dibuktikan dengan surat dari penegak hukum. Pelaku kemudian menawarkan bantuan untuk menghapis catatan itu bila korban menyetor uang,” jelasnya.

Lebih lanjut, petugas terus berupaya melakukan pemeriksaan untuk mendalami sejauh mana gerakan mereka di Indonesia. Wardoyo

 

Loading...