loading...
Loading...

SOLO, Joglosemar news.com – Menyambut era revolusi industri 4.0, Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Surakarta menggelar seminar nasional dengan mengusung tema Digital Marketing Untuk Pemberdayaan UMKM Era Industri 4.0 di Swiss Bellin Hotel, Solo, Senin (29/4/2019).

Acara yang berlangsung pagi hari tersebut dihadiri ratusan orang yang merupakan perwakilan dari 24 sekolah  menengah di Surakarta.

Naba, selaku Marketing Event dan Relationship pusat dalam sambutannya menuturkan, seminar tersebut merupakan penutup dari serangkaian acara ulang tahun BSI.

“Terdapat 4.300 lebih perguruan tinggi di Indonesia, dan pemerintah mulai memikirkan untuk pengurangan jumlah perguruan tinggi dengan cara penggabungan, seperti yang BSI lakukan sekarang. Maka dari itu BSI memiliki jumlah mahasiswa terbanyak se-Indonesia setelah Universitas Terbuka,”  ujarnya.

Baca Juga :  Begini Kesiapan, SD Muhammadiyah 1 Solo Maju Lomba Sekolah Sehat Nasional

Naba menambahkan, kampus BSI sudah lama ada di Kota Solo, namun baru tahun 2018 surat izinnya turun menjadi Universitas BSI Surakarta.

Namun demikian, jelas Naba, sistem yang ada di BSI sudah menggunakan kecanggihan teknologi. Mulai dari penerimaan mahasiswa baru (PMB) sampai bahan ajar yang digunakan oleh dosen.

Sementara itu, Prof Dr Richardus Eko Indrajit selaku pembicara dalam  seminar tersebut menuturkan, infrastruktur di Indonesia sebenarnya tidak lamban.

“Justru masyarakatnya yang terlalu haus akan internet. Buktinya, jumlah kartu handphone terjual lebih banyak ketimbang jumlah penduduk di Indonesia,” ujarnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi salah satu pemicunya adalah aktivitas ekonomi, artinya ada pasar dan proses jual beli.

Baca Juga :  60 Dosen Unisri Ikuti Bimbingan PKM

“Pasar ramai, ekonomi tumbuh. Bedanya dulu dengan sekarang, kalau dulu orang harus bertemu di pasar. Tapi sekarang zamannya pasar digital atau pasar virtual,” jelasnya.

Lebih jauh Eko menjelaskan, digital adalah pasar baru yang melampaui pasar zaman dulu yang potensi ekonominya sangat besar. Karena itulah, pemerintah menggiatkannya sebagai UMKM. A. Setiawan

Loading...