JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kesaksian Warga Sragen, Jor-Joran Money Politik di Pemilu 2019 Makin Merajalela. Sebut 99 % Caleg Terpilih Lakukan Money Politik 

Ilustrasi money politik. Foto/Wardoyo
Ilustrasi money politik. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemilu serentak 2019 di Kabupaten Sragen sudah selesai digelar dalam situasi relatif lancar. Namun perhelatan pesta demokrasi akbar memilih pemimpin negeri dan anggota DPRD lima tahunan itu menyisakan catatan hitam.

Catatan itu tak lain adalah proses Pemilu yang belum bisa lepas dari virus money politik. Bahkan, yang terjadi justru fenomena money politik atau politik transasksional dirasakan makin merajalela.

Fenomena jor-joran money politik itu terungkap dari kesaksian para warga dan tokoh masyarakat di berbagai penjuru Sragen. Hampir sebagian besar masyarakat pun sepakat menyebut bahwa hampir semua kontestan Pemilu, utamanya Pileg DPRD, DPR Provinsi dan DPR RI, yang kemudian terpilih, hampir dipastikan melakukan money politik.

“Ya memang faktanya seperti itu. Kalau mereka enggak selak batine (menyangkal secara batin) pasti mengakui kalau hampir semua Caleg yang terpilih, katakanlah 99 % mereka itu melakukan money politik. Apapun bentuknya. Dan itu fakta yang enggak bisa dibantah. Karena memang fenomena di lapangan itu (money politik) ibaratnya sudah membudaya. Masyarakat sendiri juga kadang nggak mau tahu, kalau nggak ada uangnya ya nggak mau nyoblos. Nerima pun, ditumpangi nominal yang lebih besar, kadang juga ngglebak (beralih pilihan). Memang sangat memprihatinkan sekali,” ujar Sugi, salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Kedawung kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Senin (10/6/2019).

Baca Juga :  39 Sapi di Sragen Mati Terserang PMK, Total Kasus Capai 708 Ekor. Kecamatan Sumberlawang Paling Parah

Ia mencontohkan untuk Pileg DPRD kabupaten, nominal tembakan yang beredar dari Caleg ke masyarakat di wilayahnya berkisar minimal Rp 50.000 hingga Rp 150.000. Pun dengan Caleg DPRD Provinsi dan RI, tembakan sejumlah Caleg yang jadi, juga berkisar antara Rp 50.000 sampai Rp 150.000.

Bahkan ada Caleg yang meraih suara signifikan tapi gagal terpilih, juga tak luput dari menyebar amplop tembakan.

“Kalau ada yang bilang enggak pakai duit, itu omong kosong. Faktanya seperti itu dan yang terjadi di lapangan memang begitu. Dan yang nggak nembak, ya kelakon memang nggak dapat suara,” ujarnya.

Jor-joran money politik juga diakui oleh Joko, warga Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang. Dari pengamatannya di lapangan saat Pemilu lalu, jor-joran tembakan memang cukup ramai dan makin besar.

Baca Juga :  Angin Segar Dari Rakernas PDIP untuk Sragen, Mas Bowo Sebut Bantuan RTLH Bakal Digenjot Hingga 8000 Unit Setahun!

Ia mencontohkan beberapa Caleg DPRD kabupaten yang mendapat suara signifikan di wilayahnya, rata-rata menyebar tembakan antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per orang. Sedangkan untuk DPRD provinsi dan RI, rata-rata tembakannya Rp 50.000 sampai Rp 100.000.

“Bahkan ada yang sistem paketan. Misal salah satu Caleg di DPRD yang nembak Rp 200.000 tapi untuk satu paket dari kabupaten sampai RI. Uang itu untuk nembak dia sendiri, untuk tandemnya yang nyaleg provinsi dan untuk DPR RI. Itu belum dari Caleg lain. Akhirnya nanti dibagi suaranya. Misal satu keluarga ada tiga orang, ya dibagi-bagi milihnya. Jadi kemarin itu satu orang bisa sampai nerima Rp 400.000 sampai Rp 500.000 ,” tuturnya.

Tak hanya Caleg abangan, praktik money politik itu menurutnya juga dilakukan oleh Caleg yang berangkat dari partai yang kental berbasis agama. Bahkan ada Caleg dari kerabat tokoh agama di Dapil itu juga nembak antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua