loading...
tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pada periode kedua pemerintahannya, Presiden Jokowi nanti tidak dapat begitu saja didekte oleh partai dalam menentukan menterinya.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno. Dia  menilai, di periode kedua pemerintahannya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan lebih otonom menentukan menterinya.

Alasannya, selain dibantu parpol, kemenangan Jokowi juga banyak dibantu relawan, periode kedua ini Jokowi ditengarai akan all out membuktikan semua janji politiknya.

“Untuk itu, dia tentu akan memilih menteri yang full power merealisasikan keinginannya, bukan menteri yang malah menjadi benalu pembangunan ke depan. Karena itu, Jokowi tak mungkin lagi didikte partai-partai pengusungnya,” ujar Adi Prayitno saat dihubungi, Senin (10/6/2019).

Jokowi, menurut Adi, tentu tak mau berjudi untuk periode keduanya dengan merekrut menteri-menteri yang tak kompeten. Apalagi janji politik Jokowi di pemilihan presiden 2019 cukup spesifik menyangkut pembangunan manusia terutama bidang ekonomi, serapan tenaga kerja, dan mengentaskan pengangguran.

Baca Juga :  Perhimpunan Perawat Desak Pemda Sediakan Tempat Tinggal Sementara dan Layanan Antar Jemput

Adi memprediksi, pembentukan kabinet baru nanti akan lebih dinamis. Ia memperkirakan bahwa Jokowi akan melakukan reshuffle kabinet setelah pelantikan pada Oktober mendatang, bukan dalam waktu dekat ini.

“Kecuali ada menteri yang menjadi tersangka KPK sebelum Oktober, mungkin Jokowi akan cepat melakukan reshuffle. Tanpa kejadian itu tentu reshuffle hanya isapan jempol belaka karena sisa waktunya sangat tipis,” ujar Adi.

Saat ini, beberapa partai politik pendukung Jokowi mulai terang-terangan meminta jatah kursi menteri. Golkar bahkan sudah merilis nama-nama yang akan disodorkan kepada Jokowi.

Beberapa tokoh, seperti Dewan Pengarah Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Ahmad Syafii Maarif memberi saran kepada Jokowi untuk menerapkan zaken kabinet.

“Kabinet yang terdiri dari orang-orang ahli,” ujar Syafii Maarif usai menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019) lalu.

Baca Juga :  Wabah Corona Melanda, KPK Bakal Lakukan Persidangan Daring

Pada 9 Mei lalu pula, Jokowi menyiratkan akan lebih maksimal dalam segala hal di periode kedua pemerintahannya.

“Lima tahun ke depan, mohon maaf, saya sudah enggak ada beban. Saya sudah enggak bisa nyalonkan lagi. Jadi apa pun yang paling baik, terbaik untuk negara akan saya lakukan,” kata Jokowi dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2019 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (9/5/ 2019) lalu.

www.tempo.co