JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Senang Tak Ada Pungli, Ribuan Pembezuk Napi di Lapas Sragen Dihibur Lagu Jawa Oleh Kalapas Kelahiran Papua

Kalapas Sragen, Yosef Yembise saat menyanyikan lagu Sewu Kutha untuk menghibur pembezuk napi di halaman Lapas, Sabtu (8/6/2019). Foto/Wardoyo
madu borneo
madu borneo
madu borneo

Kalapas Sragen, Yosef Yembise saat menyanyikan lagu Sewu Kutha untuk menghibur pembezuk napi di halaman Lapas, Sabtu (8/6/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Suasana hangat menghiasi halaman dan aula di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Sragen, Sabtu (8/6/2019) pagi. Ribuan kerabat napi tampak bercengkerama dengan anggota keluarganya yang menjalani hukuman di hotel prodeo Sragen itu.

Mereka silih berganti melepas rindu dengan sanak saudara di Lapas sejak pukul 08.00 WIB. Masing-masing mendapat jatah satu jam untuk bezuk.

Namun ada yang berbeda pada jam layanan bezuk tadi pagi. Adalah Kalapas Yosef Benyamin Yembise yang membuat suasana bezuk terasa berbeda.

Berseragam lengkap plus blangkon jawa di kepala, Kalapas kelahiran Papua itu mendadak tampil di depan para pembezuk dan napi yang memadati halaman dalam.

Selepas memberi sambutan, Yosef kemudian menyampaikan beberapa pesan bahwa Lapas Sragen sudah mendeklarasikan bebas pungutan liar dan anti bayar-bayar.

“Saat ini di LP Sragen sudah nggak ada lagi pungutan-pungutan liar. Nggak ada lagi bayar-bayar petugas. Ingat pungli itu dosa Bapak Ibu. Saya tegaskan di sini semua pelayanan gratis, ada mainan anak, semuanya gratis. Kalau ada yabg narik pungli, silakan lapor Pak Kalapas,” ujarnya disambut aplaus dari keluarga pembezuk dan napi.

Ia kemudian menguraikan bahwa komitmen bebas pungli dan pelayanan gratis nan ramah itu digeber sejak dirinya menjabat sebagai pimpinan di Lapas Sragen tahun lalu.

Baca Juga :  Ikut Razia Masker, Kasdim Sragen Kepergok Selipkan Uang Rp 50.000 ke Kantong Kakek Tua Yang Tertangkap Tak Pakai Masker di Tanon

Komitmen itu juga sebagai implementasi semangat reformasi untuk mewujudkan zona wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani (WBK-WBBM) yang sudah dicanangkan beberapa waktu lalu.

“Jadi bukan sekadar slogan. Dan Alhamdulillah, dari sekian banyak Satker di Indonesia, ada 63 Satker yang lolos tahap pertama penilaian zona WBK. Dan salah satunya adalah Lapas Kelas II A Sragen ini. Makanya kami senantiasa menanamkan semua pegawai untuk melayani dengan hati, senyum, ramah dan tidak ada pungli,” ujar Yosef.

Kalapas sempat melempar pertanyaan kepada para pembezuk jika ada yang ingin memberi masukan atau memberi penilaian soal pelayanan di Lapas Sragen.

Namun tak ada satu pun pembezuk yang memberi masukan dan sebaliknya mayoritas mengaku sudah merasakan perubahan dan puas dengan pelayanan Lapas Sragen.

Sebagai apresiasi dan untuk menghibur para napi serta pembezuk, Yosef kemudian menyanyikan lagu Jawa berjudul “Sewu Kutha”. Seolah tanpa sekat, para pembezuk pun tak canggung langsung menyambut dan berbaur berjoget bersama Kalapas.

Foto/Wardoyo

Salah satu pembezuk, Priyono (50) asal Gemolong kemudian berdiri ke depan. Namun bukan kritikan, ia justru mengaku baru kali pertama merasakan adanya suasana yang sangat berbeda di Lapas Sragen dari Lapas yang pernah ia kunjungi.

Baca Juga :  Saat Konangan Warga Gemolong, Untung Sempat Buang Dompet Isi Uang Palsu Rp 3,1 Juta. Terancam Hukuman 10 Tahun Denda Rp 10 Miliar

“Kalau di sana-sana saya dengar Lapas menyeramkan, ternyata di sini (Lapas Sragen) enggak. Kemarin dengar dari Klaten, saya sampai enggak bisa tidur mbayangkan bagaimana anak saya yang ada di sini. Ternyata setelah saya masuk pelayanan bagus dan ramah. Anak saya di sini juga sehat. Saya tanya makanannya gimana? Anak saya bilang makanannya layak Pak. Dia bilang di sini napi sama tahanan rukun semua,” tutur Priyono yang pagi itu membezuk putranya yang sedang menjalani hukuman.

Priyono mengatakan apa yang disampaikannya itu bukan sesuatu yang mengada-ada. Tapi itu sebagai ungkapan yang ia rasakan dan anaknya alami selama di Lapas Sragen.

“Ini dari lubuk hati saya paling dalam. Semua petugas di sini juga ramah-ramah dan senyum. Jujur saja kemarin waktu mau masuk pertama kali ya takut, tapi begitu sudah masuk sangat bagus,” urainya.

Senada, salah satu pembezuk asal Solo, Nadia (25) juga mengaku sangat senang bisa mendapat kesempatan bezuk hampir satu jam. Pagi tadi, perempuan cantik itu membezuk suaminya yang ditahan di Lapas Sragen.

“Pelayanannya bagus Mas. Nggak ada bayar-bayaran, petugasnya ramah-ramah,” tuturnya yang beberapa kali tertangkap kamera tampak memeluk mesra suaminya. Wardoyo