loading...
Loading...
Talkshow kampanye anti perdagangan orang. Dok. KemenPPA

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM-Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) KemenPPPA, Destri Handayani, membeberkan, korban anak sangat banyak dalam kasus perdagangan orang, terutama bagi anak perempuan.

Menurut rilis yang diterima JOGLOSEMARNEWS.COM, Minggu (4/8/2019), data KemenPPPA, pada tahun 2018, 2/3 atau sekitar 70 persen korban tindak pidana perdagangan orang adalah perempuan dan anak perempuan. Salah satu modus dari TPPO adalah teman jual teman.

“Orang dewasa yang mengincar anak-anak juga banyak. sehingga dengan sosialisasi dan edukasi lewat peer group akan lebih efektif mencegah TPPO,” ujar Destri Handayani.

Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia yang ditetapkan pada tanggal 30 Juli, menurut dia menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih sadar dan peduli dengan perdagangan orang. Destri berharap partisipasi masyarakat mampu memutus rantai TPPO.

Baca Juga :  Teror Binatang Misterius di Jatiroto Wonogiri. 2 Ekor Kambing Mati Dengan Luka Gigitan

“Partisipasi masyarakat sedang digalakkan oleh Kemen PPPA. TPPO itu awal terjadinya dilingkup masyarakat, jadi partisipasi masyarakat sangat menentukan. Apalagi ditingkat komunitas yang kadang tidak terdeteksi oleh Gugus Tugas TPPO,” tandas dia.

Hal ini dibenarkan Aisyah Fitriani, perwakilan Forum Anak Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dalam talkshow Kampanye Publik Anti Perdagangan Orang yang diselenggarakan oleh Kemen PPPA bekerjasama dengan International Organization for Migration (IOM) di Jakarta (3/8). Dia membeberkan di Nunukan yang dekat dengan perbatasan negara lain, anak-anak kebanyakan putus sekolah dan lebih memilih bekerja. Selain akses ke sekolah yang jauh, mereka lebih berorientasi mencari uang karena orangtua mereka merupakan pekerja migran. Sehingga mereka rentan menjadi korban perdagangan orang.

Baca Juga :  PKS Wonogiri Adakan Training Orientasi PKS, Bertema Bahagia Bersama PKS

Aisyah dan rekannya Evi dari Forum Anak Sebatik berencana melakukan sosialisasi dengan teman-teman sebaya di daerahnya terkait isu perdagangan orang, serta mendorong mereka menjadi pelopor dan pelapor dalam isu TPPO.

“Selama ini belum ada program atau kegiatan spesifik tentang isu perdagangan orang, tapi rencananya akan kami lakukan, dan dikemas dengan lebih sederhana dan mudah dipahami anak,” terang Aisyah. Aria

Loading...