loading...
Loading...
Ilustrasi wartawan bodrek

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah kepala sekolah di wilayah Sragen Barat dilanda keresahan menyusul maraknya oknum wartawan abal-abal yang gerilya datang ke sekolah.

Bermodalkan tabloid atau surat kabar dengan judul seram dan kartu pers yang diduga asal-asalan, mereka menakut-nakuti pihak sekolah yang ujung-ujungnya mengarah uang.

Aksi wartawan abal-abal itu marak memasuki tahun ajaran baru. Sasaran mereka ke sekolah-sekolah negeri dengan modus mengorek proses PPDB, pengelolaan BOS, sumbangan pendidikan hingga pengadaan seragam.

Aksi wartawan abal-abal itu terungkap ketika sejumlah Kepala Sekolah di SMPN, SMAN dan SMKN di wilayah Sragen barat mengeluhkan didatangi gerombolan wartawan abal-abal dalam beberapa pekan terakhir.

“Kami banyak menerima keluhan dari kepala sekolah. Mulai dari SMP negeri hingga SMK negeri di wilayah Sragen Barat yang sering didatangi oknum mengaku-aku wartawan. Mereka datang intinya menanyakan BOS, PPDB dan sumbangan sekolah. Lalu ujung-ujungnya mencari celah dan menakut-nakuti akan nulis macem-macem dan melaporkan pelanggaran apabila tidak mau membayar,” papar Didik, salah satu tokoh masyarakat Miri kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, Jumat (2/8/2019).

Didik menguraikan, hari ini tadi dirinya juga mendapat aduan dari Kepala SMKN 1 Miri dan Kalijambe yang didatangi 3 oknum mengaku wartawan. Modusnya ketiga oknum itu datang ke kepala sekolah, menuding pengadaan seragam dan sumbangan sekolah melanggar aturan.

Namun setelah itu, mereka kemudian menyodorkan secarik kertas berisi tarif tulisan yang nominalnya antara Rp 3 juta hingga Rp 10 juta. Karena pihak sekolah merasa sudah prosedural dan tak menjual seragam, akhirnya permintaan wartawan abal-abal pun ditolak secara halus.

“Begitu tidak diiyakan, mereka mengalihkan permintaan dengan menyebut sejumlah nominal. Namun pihak sekolah tetap bersikukuh dan akhirnya mereka pergi tapi sempat mengumpat dan bilang macam-macam. Itu kan sudah nggak benar dan mengarah pemerasan,” terang Didik.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Mobil Dinas Pemkab Sragen Gasak 2 Motor di Nglorog. Satu Korban Tewas, Satu Patah Kaki 

Didik menguraikan maraknya wartawan bodrek atau abal-abal itu lantaran ditengarai ada Kasek yang memilih memberi permintaan uang karena risih terus dikejar. Hal itulah yang membuat mereka ketagihan dan menjadikan sekolah sebagai sasaran untuk mencari uang.

Mereka biasanya datang rombongan dua hingga lima orang. Biasanya datang dari luar Sragen, mulai dari Solo, Semarang bahkan dari Pati maupun Grobogan.

“Harapan kami dari pihak aparat bisa melakukan tindakan tegas agar wartawan bodrek atau abal-abal itu bisa diberantas. Karena kami juga kasihan, adanya perilaku oknum-oknum seperti itu bisa merusak citra wartawan yang resmi dan benar-benar bekerja sesuai dengan kaidah jurnalistik,” tukas Didik.

Terpisah, Kepala SMKN 1 Miri, Sarno tak menampik memang didatangi tiga oknum mengaku wartawan siang tadi. Ketiga oknum itu sempat datang ke SMKN Miri namun dirinya tak sempat menemui sehingga ditemui oleh Wakasek.

Dari laporan Wakasek, ternyata ketiga oknum memang menanyakan soal seragam dan sumbangan sekolah, yang ujung-ujungnya menyebut soal nominal uang jutaan.

“Karena kami sudah prosedural, pengadaan seragam kita bebaskan dan serahkan ke wali murid. Lalu sumbangan juga cuma Rp 50.000 jauh dibanding sekolah SMK lainnya. Setelah itu mereka pergi tapi sempat bilang agak keras dan mengancam,” tuturnya.

Selepas dari SMKN 1 Miri, ketiga oknum itu kemudian terdeteksi beraksi di SMKN 1 Kalijambe. Dengan modus yang sama, ketiga oknum asal luar Sragen itu juga menakut-nakuti dengan ujung-ujungnya menyebut nominal uang.

“Tadi juga nggak kami kasih. Lha uang darimana, wong sekolah kami sudah berjalan sesuai mekanisme dan semua dilaksanakan sesuai aturan. Memang sangat meresahkan,” ujarnya yang kebetulan juga mengampun sebagai Plt Kasek SMKN 1 Kalijambe.

Tak hanya di sekolah, aksi wartawan bodrek itu juga banyak dikeluhkan para Kades di wilayah Sragen barat. Rata-rata modusnya mengorek APBdes, penggunaan dana desa, proyek PTSL yang ujung-ujungnya juga minta uang agar tidak ditulis macam-macam.

Baca Juga :  2 Gudang Miras Sragen Kota Digerebek Polisi. Dua Pemilik Ditetapkan Tersangka, 176 Botol Miras Impor dan Lokal Disita 

“Yang banyak mereka mengaku dari wartawan tabloid bulanan yang namanya seram-seram. Kadang juga ngaku LSM. Intinya pokoknya nanti minta uang. Kadang kami terpaksa ngasih, bukan karena kami salah atau takut, tapi risih. Karena mereka itu mbledik sampai ke rumah kalau di kantor nggak ada. Harapan kami kalau bisa mereka diberantas biar nggak bikin resah. Kadang sebulan sekali, kadang dua kali. Dan orangnya ganti-ganti,” ujar salah satu Kades di Sumberlawang yang minta identitasnya tidak disebut.

Terpisah, Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kasubag Humas AKP Agus Jumadi mengimbau kepala sekolah atau Kades tak perlu takut jika didatangi oknum wartawan atau LSM abal-abal. Jika kedatangan mereka sudah mengarah pada unsur pemaksaan, permintaan uang disertai pemerasan atau ancaman, diminta segera melapor ke Polsek terdekat.

“Kalau memang agak mencurigakan, silakan ditanyakan identitasnya, keperluannya apa, kalau memang nggak logis tak perlu ditanggapi. Kalau perlu setiap didatangi oknum seperti itu difoto wajahnya, lalu kartu identitasnya. Apabila mengancam atau minta uang, langsung laporkan ke Polsek. Karena itu sudah ranah pidana pemerasan dan bisa diproses hukum. Kalau memang sudah sesuai aturan dan tidak ada yang melanggar, tidak perlu takut,” tegasnya. Wardoyo

Loading...