JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Fenomena Langit Merah di Jambi, Waktu Duhur Seperti Magrib, Ayam Siap-siap Menyambut Malam Ternyata Baru Pukul 12 Siang

Facebook/Qha Caslley

JAMBI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dampak asap kebakaran hutan begitu terasa di Jambi dan sekitarnya. Keadaan parah terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi pada Sabtu (21/9/2019).

Meski waktu baru menujukan pukul 16.00 WIB, lampu penerang jalan, hingga lampu rumah warga telah hidup. Kondisi ini terpantau di hampir setiap desa, mulai dari Desa Arang-Arang, Sipin Teluk Duren, Puding, Teluk Raya, Pulau Mentaro hingga Desa Pematang Raman.

Sejumlah warga yang terlihat disepanjang jalan mengenakan masker untuk beraktivitas, sungai di sisi kanan jalan pun terlihat surut. Kabut asap pekat terasa hingga menghalangi cahaya sinar matahari. Terpaan hawa panas dari kabut asap dan partikel debu terasa kering dikulit. Saat berkendara sepeda motor akan sulit untuk melihat jelas karena partikel abu yang berterbangan akan terasa pedih di mata.

Sore itu, ruangan Puskesmas pembantu di Desa Pulau Mentaro masih terbuka. Ditunggui oleh Siti Amina, dan suaminya yang tinggal di sebelah Puskesmas pembantu itu.

Kepada Tribunjambi.com, ia mengatakan suasana gelap di siang hari sudah berlangsung sejak satu minggu terakhir. “Paling parahnya siang tadi, jam 11 siang terasa seperti magrib,” katanya.

Baca Juga :  Terjadi Lagi, Pasal yang Hilang dan Jumlah Halaman yang Bertambah dalam Naskah UU Cipta Kerja. Ini Jawaban Istana

Ia bercerita sempat terheran saat mendengatkan azan Dzuhur yang terasa sempat dikiranya adzan Magrib. Ditambah lagi ayam peliharaannya di belakang rumah tiba-tiba naik bertengger layaknya menyambut malam.

“Sempat heran aku kira magrib tadi, karena tadi sempat ketiduran. Dengan suara adzan di depan udah mulai gelap,” katanya.

“Pas kebelakang mau wudu nengok ayam udah naik ke kandang, eh ternyata baru Zuhur. Pas lihat jam ternyata baru jam 12.00 siang, jangankan kito ayam aja bingung masih siang dikira Magrib,” sambungnya.

Siti Amina sudah bekerja sebagai bidan sejak lama di pustu Desa Pulau Mentaro, ia mengatakan dalam satu minggu terakhir kabut asap disertai partikel abu memang sangat pekat hingga ke dalam rumah.

Bahkan dalam empat hari terakhir, setidaknya tiga hingga empat orang warga datang memeriksakan kesehatan kesehatan umumnya yang dikeluhkan adalah sesak nafas, mata perih dan berair hingga asma yang kambuh.

“Meningkat memang dalam satu minggu ini, tiap hari ada aja warga yang datang meriksa keluhannya kalau tidak ISPA, diare, ada juga kasus anak-anak demam tinggi,” ujarnya.

Baca Juga :  Sidang Perdana Kasus Dugaan Penghapusan Red Notice Joko Tjandra Bakal Digelar 2 November

Bahkan beberapa warga dalam beberapa hari terakhir terpaksa dirujuk ke rumahsakit di Kota Jambi karena mengalami gangguan pernafasan karena kabut asap.

“Satu minggu ini tiga orang pasien dirujuk ke rumah sakit di Jambi, satu lansia dan dua orang anak-anak. Penanganan kita di sini kita berobat jalan, tapi kalau harus di rawat terpaksa dirujuk ke rumah sakit karena peralatan kami tidak memadai,” ujar Siti Amina.

Ia juga mengatakan, untuk persediaan oksigen di puskesmas pembatu di Desa Pulau Mentaro hanya ada satu tabung kecil oksigen. Hal ini menurut Amina tidak memadai jika ada pasien dengan riwayat asma yang datang untuk berobat.

“Kami juga keterbatasan masker, stok kita sedikit sementara hampir tiap hari warga ada yang datang minta masker. Kalau bisa dibantu masker,” ujarnya.

Ia juga mengatakan untuk mengurangi dampak kabut asap dan partikel debu yang berbahaya setiap warga yang berobat disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

www.tribunnews.com

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Aminah dan Ayam Peliharaannya Terkicuh Lihat Langit Merah dan Gelap di Siang Bolong, Artikel Asli