JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sempat Memprihatinkan, 2 Siswa Korban Tragedi Ambruknya Aula SMKN 1 Miri Alami Gegar Otak. 3 Siswa Jalani Operasi Tulang Hari Ini

Ketua Komisi IV DPRD, Sugiyamto bersama anggota saat meninjau kondisi siswa korban ambruknya SMKN 1 Miri, di RSUD Sragen, Kamis (21/11/2019). Foto/Wardoyo
Ketua Komisi IV DPRD, Sugiyamto bersama anggota saat meninjau kondisi siswa korban ambruknya SMKN 1 Miri, di RSUD Sragen, Kamis (21/11/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Dua siswa korban robohnya aula SMK Negeri 1 Miri Sragen divonis menderita pembengkakan di otak mengarah pada gejala gegar otak ringan. Sementara tiga siswa lainnya sukses menjalani operasi patah tulang di RSUD Sragen.

Fakta itu disampaikan Kabid Pelayanan RSUD Sragen, Sri Herawati saat menerima kunjungan tim Komisi IV DPRD Sragen yang meninjau para korban ambruknya Aula SMKN 1 Miri, Kamis (21/11/2019).

Kepada wartawan, Dokter Hera  mengungkapkan saat ini di RSUD Sragen ada tujuh siswa SMKN 1 Miri yang dirawat akibat tragedi ambruknya aula.

Ia menuturkan saat kali pertama datang, mayoritas korban dalam kondisi agak memprihatinkan.

Namun setelah mendapatkan penanganan, mereka hari ini telah dipindah dari IGD ke beberapa bangsal perawatan.

Dari tujuh korban yang dirawat, dua di antaranya menderita memar di kepala, tiga menderita patah tulang, sementara dua sisanya hanya luka ringan.

Baca Juga :  Awas, 3 Pasien Baru Positif Covid-19 Sragen Belum Terlacak Sumber Penularnya. Berikut Daftar 4 Tambahan Pasien Positif Tanggal 18 September!

“Yang menderita fraktur (patah tulang) sudah kami lakukan operasi hari ini.  Yang agak memprihatinkan adalah dua korban yang mengalami benturan agak serius di kepala. Setelah kami observasi, ternyata ada pembengkakan di otak, tapi tidak ada pendarahan di dalam. Gejalanya gegar otak ringan,” ujarnya.

Ia menguraikan saat kali pertama datang, dua siswa paling parah itu mengalami perdarahan di telinga dan hidung. Keduanya dalam kondisi sadarkan diri, meskipun lemah.

“Tapi kami terus lakukan observasi dan pengobatan. Yang bahaya itu kalau ada perdarahan di otak. Alhamdulillah ini sudah membaik,” terangnya.

Khusus untuk kedua korban ini, akan terus dilakukan pengawasan ketat hingga tiga hari ke depan.

Baca Juga :  Wilayah Rawan Kekeringan di Sragen Meluas. BPBD Sebut Naik 70 % Menjadi 249 Dukuh, Warga Tangen Mengaku Sudah Malu dan Bosan Didroping

Sementara terkait kapan para korban bisa pulih, menurut Herawati hal itu tergantung kondisi fisik masing-masing.

“Saat ini ketujuh korban sudah kami pindah ke bangsal. Mudah-mudahan kondisinya membaik,” kata Herawati.

Sementara Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, memastikan para korban akan mendapatkan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya. Pihaknya memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban.

“Yang punya BPJS akan kita bayar selisihnya berapa. Kalau yang belum punya BPJS kita tanggung seluruhnya. Ini wujud tanggung jawa pemerintah daerah Sragen,” kata Yuni.

Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto mengaku prihatin melihat kondisi para siswa yang dirawat di RSUD Sragen. Ia berharap mereka bisa segera pulih setekah mendapatkan penanganan medis. Wardoyo